Santri 5G

Pada pergantian abad ke-15-16 M, setelah keruntuhan Majapahit, bangsa Eropa menjelajah ke empat penjuru mata angin untuk mencari dan menemukan teritori-teritori baru, menaklukkannya dan memperluas kekuasaannya. Armada laut Spanyol dan Portugis, dengan keunggulan teknologi kapal Jung yang mereka pelajari dari Sriwijaya delapan abad sebelumnya serta teknologi meriam dan mesiu, berlayar ke barat, menaklukkan bangsa Indian di benua Amerika Selatan dan Utara. Armada yang lain berlayar ke Timur memasuki teritorial laut dan samudra yang kosong, yang dulu dijaga oleh armada laut Majapahit yang mengontrol sepertiga lautan dunia pada abad ke-13-14 M.

Bangsa Indian Amerika berhasil ditaklukkan dengan kekuatan teknologi militer. Namun demikian, bangsa Nusantara tidak pernah bisa dikalahkan secara militer oleh bangsa Eropa. Kemudian VOC datang dengan armada dagangnya. Dari keuntungan perdagangan rempah-rempah dan keberhasilan memanipulasi retaknya hubungan kekeluargaan kerajaan-kerajaan Nusantara akibat perang saudara, kompeni Belanda perlahan-lahan berhasil menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Nusantara. Untuk menjaga dan memperkuat kekuasaannya, kompeni mendatangkan tantara bayaran dari negeri Belanda serta mengupah orang-orang pribumi yang mau diajak bekerja sama untuk menindas dan menjajah bangsa Nusantara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sekarang abad ke-21, abad milenial 5G, bangsa Indonesia masih menjadi konsumen sains dan teknologi modern, sebagai end user. Ilmu pengetahuan dan teknologi komputer, software dan hardware, diimpor dari luar Indonesia. Pun, ilmu pengetahuan dan teknologi telekomunikasi, bangsa Indonesia belum menguasainya dan harus didatangkan dari luar negeri bila bangsa ini hendak menggunakannya di segenap penjuru Nusantara.

Tinggalkan Balasan