Santri 5G

Bahkan, dalam masa-masa suram selama 500 tahun, abad ke-16 sampai 20 M, bangsa Nusantara masih bisa berkreasi dan menciptakan karya-karya adiluhing: seni tari, wayang orang, wayang kulit, batik, tenun, karya sastra, karya lukis, karya ukir. Dalam bidang perkebunan dan pertanian, para petani Nusantara menanam tembakau dan memproduksi rokok kretek, menanam kayu ulin dan kayu jati, merekayasa varietas padi tahan banjir atau tahan hama. Hutan tropis, sungai, laut, dan samudra Nusantara menyimpan keanekaragaman flora dan fauna yang luar biasa.

Penting dicatat bahwa para kiai dan ulama Nusantara menulis sekian banyak kitab-kitab ilmu fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadits yang menjadi rujukan para ulama di seantero dunia. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menulis kitab Sabilal Muhtadin; Syekh Nawawi al-Bantani menulis 115 kitab di antaranya adalah al-Tsamar al-Yani’ah syarah al-Riyadl al-Badi’ah dan al-‘Aqd al-Tsamin syarah Fath al-Mubin; KH Hasjim Asy’ari menulis kitab Mawaidz.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagaimana bangsa Indonesia, khususnya para kiai dan santri, bergulat dengan kemajuan zaman dalam abad milenial ini? Sembari terus menggali, mendalami, dan memahami kearifan lokal budaya Nusantara, mungkin bangsa Indonesia harus bekerja dan belajar lebih keras lagi untuk bisa memahami dan menguasai sains dan teknologi modern: fisika kuantum, ilmu dan rekayasa material, serat optik, nano teknologi, artificial intelligence, atau biomolekuler. Semoga baik bila para kiai dan santri membaca dan mengaji lebih dalam makna 800 ayat-ayat tentang alam semesta yang terkandung di dalam kitab al-Quran. Besar harapan bahwa dalam abad ke-21 ini bangsa Indonesia, khususnya para kiai dan santri, berhasil melahirkan inovasi-inovasi sains dan teknologi milenial yang bermanfaat bagi umat manusia dan alam semesta, rahmatan lil alamien.

Tinggalkan Balasan