Kenapa aneh, bayangkan saja jadwal kegiatan pondok yang hampir menguras habis waktu sehari semalam itu harus dibebani pula dengan rutinitas setoran nadzom sehari minimal lima bait.
Keanehan-keanehan yang kusaksikan di pondok saat itu contohnya adalah ada santri yang ketika antre mengambil jatah makanan di dapur itu sambil mendendangkan hafalan Alfiyah. Tak jarang juga para santri yang memang diwajibkan memakai kopiah ketika keluar kamar menyelipkan kitab Alfiyah dilipatan songkok hitam guna menjalani aktivitas sambil tetap menjaga hafalan. Seakan ke mana pun pergi atau beraktivitas, tak boleh lupa untuk membawa Alfiyah bersama.

Setoran Alfiyah sendiri dilaksanakan pada malam hari setelah diniyah selsai. Itu sekitar jam sepuluh malam. Adapun, santri yang tak mampu menghafal 5 bait nadzom dalam sehari akan dikenai takzir, para santri dulu lebih sering menyebutnya tahkim. Hukuman bagi siapa yang melanggar peraturan pondok, termasuk ketika tidak mau menghafalkan Alfiyah.
Hari-hari bersama Alfiyah Ibnu Malik saat itu kulalui dengan cukup sulit. Maklum, ketika Tsanawiyah aku belum terlalu mengenal dengan Nahwu Shorof. Tapi di Mambaus Sholihin aku sungguh bahagia, aku bisa mengenal Alfiyah, Imrithi, Nahwu, Shorof, dan sekian pelajaran gramatikal bahasa arab.
