‘Kampus Elang’ adalah julukan kampus yang kami jadikan jujukan untuk belajar ilmu informatika dan komputer. Demikian juga persahabatan kami. Masing-masing memunyai nama julukan. Julukan disematkan sebagai tanda “penerimaan”, bukan bully atau bahan olokan. Mereka memanggilku “Kaji”, karena aku pernah nyantri di pesantren meski hanya tiga tahun. Yudi yang berambut panjang dipanggil “Gondrong”, Fahmi karena berasal dari Ambon maka dipanggil sama dengan tempatnya berasal, Ambon. Umar yang keturunan Arab, melekat nama “Abud”, sedangkan Erik karena ia China dipanggil “Koko”. Terakhir, Ovan karena perawakannya gendut, kami memanggilnya “Ateng”. Kami ngontrak bareng, setelah perkenalan di awal opspek kampus. Seperti kontrakan “kebhinekaan”; beragam, berbeda suku, ras, dan agama, tetapi tetap satu NKRI. Nasionalis!
“Ji, bantu aku kerjakan tugas aljabar logika ini! Nggak paham tadi,” Gondrong bertanya pada Kaji.

“La sama, aku ya nggak paham. Coba panggil Koko, mungkin bisa bantu,” Kaji menyarankan.
Gondrong segera berteriak, “Ko… Koko! Sini cepat, ke kamar Kaji! One piece terbaru dah keluar episodenya…”
Koko yang fans garis keras anime One Piece cepat menghampiri, “Mana, Ji, mana?”
Kaji cekikikan. “Gondrong ngapusi! Dia nipu kamu, Ko. Ini lo, dia minta bantu kerjakan tugas.”
Gondrong memelas. “Bantu Ko, hanya kamu yang bisa pecahkan poneglyph ini.”
Koko smartest di antara teman sekontrakan. Dia cepat menguasai hal apa pun. Berbeda sekali dengan yang lainnya, keep woles and santuy!
Tiba-tiba ketika kami serius dengan penjelasan Koko, Ateng tergopoh menghampiri kami. “Woi, sebentar sini, aku mau cerita dulu,” dengan napasnya yang tersengal.
“Ada apa, Teng?” tanya Koko.
“Apa-apa ada! Pokoknya ada yang mau tak ceritakan. Mana Abud dan Ambon?”
Lalu Kaji memanggil Abud dan Ambon berkumpun di kamarnya.
“Jadi gini, sekarang kan Ramadan, kemarin aku pergi ke mall untuk beli baju. Ketika asik memilih, eh, ada ibu-ibu menatapku terus. Tiba-tiba…”
“Tiba-tiba gimana, Teng?” tak sabar Abud ingin mendengar kelanjutannya.
“Ibu-ibu tadi lama menatap seperti curiga. Kemudian mendekatiku. Dan bilang, Mas… mana dompetku, kembalikan!”
Koko terkekeh. “Memang tampangmu menarik, Teng.”
“Menarik bagaimana, Ko?”
“Menarik perhatian satpam, ha-ha-ha…,” disambut tawa teman lainnya.
Ateng kecut. “Iya benar juga, karena ibu yang bertanya tadi sambil didampingi satpam. Jadilah aku pusat perhatian, digiring ke pos satpam sambil dilihatin banyak orang.”
Ambon tertawa. “Ha-ha… kapok kamu, Teng! Terus gimana lanjutannya?”
Ateng melanjutkan ceritanya. “Ya aku dibawa ke kantor satpam. Aku digeledah dan jelas nihil. Wong bukan aku pencopetnya. Ibu tadi minta maaf. Tapi aku telanjur marah dan malu.”
“Jika aku di posisimu, tak rekam, sebar, biar viral sekalian”, Gondrong menambahkan.
“Belum selesai sampai di situ. Setelah itu aku ke parkiran, eh, ketemu ibu-ibu tadi dengan suaminya. Ia kembali menemuiku dan meminta maaf. Kali ini tidak hanya maaf, tapi sambil menyodorkan uang seratus ribu, sebagai pangganti rasa malu katanya. Demi harga diri, aku menolak!” Ateng berapi-api.
“Fulus segitu kamu tolak. Sok idealis kamu, Teng!” Abud menyela.
