Santri dan Kontroversi Karikatur Nabi

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, pernah mengatakan bahwa orang yang menghina Allah, Rasul-Nya, dan ayat suci-Nya termasuk orang kafir. “Mereka kafir setelah beriman,” tegas Ibnu Taimiyah.

Tidak belajar dari tragedi sebelumnya, Majalah Chrlie Hebdo kembali mengunggah karikatur Nabi pada Rabu (2/9/2020) dengan tameng yang sama: kebebasan berpendapat dan ekspresi. Atas terbitnya karikatur ini, dalam waktu sekejab oplah terbitan majalah penghina ini ludes. Hingga ditambah lagi jumlah terbitan pada hari berikutnya, Sabtu (5/9/2020), dan lagi-lagi majalah tersebut habis terjual kepada masyarakat Prancis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ini menunjukkan bahwa kami didukung, bahwa kebebasan berekspresi, sekularisme, dan hak penistaan bukanlah nilai-nilai usang, dan bahwa mereka didukung publik Perancis yang membelinya,” kata kartunis majalah itu dengan nama pena Juin.

Sebuah pengakuan sarkastik atas penghinaan yang telah ia lakukan. Padahal, umat muslim di seluruh dunia merasa dilecehkan dan sakit hati atas perbuatan ini.

Konsekuensi Cacat Logika

Sebenarnya, kalau kita berpikir logis, di atas keabsahan pikir, membuat sesuatu yang menghina simbol agama termasuk cacat logika. Tidak perlu dilakukan, karena akan menimbulkan prahara dan kekisruhan serta saling curiga. Hal ini akan menimbulkan banyak korban, baik rakyat kecil maupun hubungan bilateral antarnegara. Tetapi, Laurent “Riss” Sourisseau, sebagai redaktur majalah tersebut, tidak mengindahkan dan tetap atas keangkuhannya.

Pada 7 Januari 2015, beberapa tahun sebelum tragedi pemenggalan guru sejarah di Prancis terjadi, Said dan Cherif Kouachi menembaki kantor majalah itu secara membabi buta di Paris, Prancis. Tidak kurang dari 12 karyawan di kantor majalah tersebut menjadi korban. Seharusnya redaktur majalah satir ini belajar dari kejadian itu. Namun yang terjadi, pengabaian berkedok sebagai kebebasan berekspresi. Maka tidak dapat ditolak, jika kemudian Abdullakh Sourov (berkebnagsaan Rusia) memenggal kepala Samuel Paty (guru sejarah di sekolah Prancis) karena menunjukkan kartun Nabi kepada murid-muridnya.

Majalah Charlie Hebdo telah menimbulkan kemarahan dan gejolak di berbagai belahan dunia. Keputusan untuk mencetak ulang kartun tersebut memicu amarah Pakistan, Iran, dan Turki serta otoritas Muslim tertinggi Mesir, Al Azhar. Hal ini karena perbuatan itu merupakan penghinaan terhadap simbol Islam. Tidak berlebihan kiranya, kalau beberapa negara memutuskan hubungan diplomatik hingga memboikot berbagai produk Prancis. Hal ini sebagai bentuk protes bahwa menghina dan meremehkan simbol agama merupakan perbuatan yang melanggar etika. Bahkan meskipun hal tersebut didasarkan pada dalih kebebasan berekspresi.

Tinggalkan Balasan