Santri dan Kontroversi Karikatur Nabi

Sikap Santri

Ijma ulama sepakat bahwa melukis Nabi Muhammad hukumnya haram. Melukis berbeda dengan menggambar. Jika menggambar boleh diungkapkan dengan kata-kata, tidak dengan melukis, yang tertuang di atas kanvas. Maka lukisan tidak dapat diganti dengan narasi kata-kata secara keseluruhan dan ketepatan. Seperti menggambarkan “mata indah”, jika dituangkan dalam bentuk lukisan, tidak akan sama antara satu orang pelukis dengan pelukis lainya. Oleh sebab itu tidak mungkin melukis fisik Nabi Muhammad.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai seorang santri, tidak ada salahnya kita mengungkapkan ketidaksukaan dengan narasi dan kata-kata. Kita (sebagai santri) tidak punya otoritas untuk memboikot produk, misalnya, namun setidaknya dengan menuangkan dalam bentuk naskah atau tulisan, akan dipandang sebagai perbuatan ibadah yang diridhai Allah. Namun, kita tetap berharap kepada pemerintah Indonesia, sebagai bentuk protes terhadap Presiden Prancis, Emmanoel Macron, agar (setidaknya) memboikot produk Prancis. Jauh dari itu, memutus hubungan diplomatik, adalah tindakan yang dinilai bijak.

Santri berdemo adalah legal dan sah-saja. Namun, yang perlu diperhatikan bahwa tidak boleh terjadi reaksi yang berlebihan, anarkhis, dan merusak fasilitas atau sarana prasarana. Silakan menyampaikan aspirasi secara baik-baik tanpa menimbulkan kerugian terhadap berbagai pihak. Sebab, Nabi Muhammad diutus sebagai rahmatal lil’alamin (sebagai rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam).

Andai saja Rasulullah mengetahui tentang penembakan yang menewaskan 12 orang karayawan Charlie Hebdo, atau guru sejarah yang dipenggal kepalanya, dan tragedi-tragedi lainnya terkait dengan hinaan terhadap Nabi, tentu Nabi tidak akan senang dan akan mencegah sebisanya terhadap perbuatan anarkhis tersebut.

Dalam sebuah riwayat, dijelaskan bahwa Rasulullah ditolak mentah-mentah, dihina, dan dilecehkan ketika berdakwah di Thaif. Datanglah Jibril atas perintah Allah untuk memberikan bantuan. Jibril berkata, “Jika Rasulullah Saw mau, saya bisa lemparkan gunung ke masyarakat Thaif.” Tetapi apa jawaban Nabi? “Allahumhdi qaumi, fainnahum la ya’lamun” (ya Allah, berikanlah hidayah (petunjuk) kepada kaumku, karena mereka tidak paham.”

Demikinalah karakter Rasulullah yang lembut dan penuh kasih. Tidak mengambil kesempatan karena Beliau seorang utusan, kemudian berlaku kejam terhadap orang-orang yang menolak dakwahnya. Tetapi tetap berusaha dengan sepenuh daya, agar mereka beriman dengan hati, bukan karena terpaksa.

Sebagai seorang santri, yang setiap saat berkelindan dengan sikap dan karakter Rasulullah, seharusnya berbuat lebih bijak dan lebih arif dalam menyikapi sebuah permasalah. Berbuat anarkhis dan kekerasan bukan sebuah solusi. Karena hal tersebut akan menimbulkan gejolak yang lebih besar. Menimbulkan luka dan meninggalkan kekecewaan. Semoga ke depan, kita diberi pertolongan oleh Allah swt agar mereka memahami bahwa menghina simbol agama, dengan alasan apa pun, termasuk perbuatan penghasutan dan menimbulkan permusuhan. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan