Santri dan Radikalisme

Sebenernya, sebutan yang paling tepat itu bukan radikalisme, namun ishraf (berlebihan). Berlebihan di sini dapat diartikan dengan berlebihan dalam beragama. Merasa diri paling benar tanpa memandang sifat persaudaraan. Berlebihan juga memiliki “penyakit bawaan” berupa tidak adanya sikap toleransi.

Padahal, Nabi Muhammad justru mengajarkan kepada umatnya untuk tasamuh (saling menghormati dan menghargai sesama manusia) dan juga memelihara ukhuwah (persaudaraan antarsesama manusia).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah pernah bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Artinya: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari kesalahan, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR Bukhari).

Tinggalkan Balasan