Dari semula, Gus Ali, sapaan akrab KH Mohammad Ali Shodiqin, memang fokus untuk menyasar orang-orang yang hidup di dunia hitam untuk menjadi santri dan ikut pengajian di pondoknya. Karena itu, tak heran jika kiai berambut gondrong dan berpenampilan nyentrik ini sering keluar masuk diskotek, berada di terminal atau jalanan, dan sebagainya. Tujuannya untuk mencari calon-calon santri.
Ketika sudah berada di Pondok Pesantren Roudlotun Ni’mah, tentu mereka yang telah status santri ini ikut kegiatan mengaji seperti santri-santri lainnya. Seperti, mengaji al-Quran, ilmu tauhid, fikih, dan juga kitab-kitab kuning pada umumnya. Tak hanya dibekali ilmu agama, para santri di Pondok Pesantren Roudlotun Ni’mah ini, termasuk yang dari golongan hitam tadi, diberi kesempatan untuk sekolah di sekitar pondok, mulai dari SD, SMP, SLTA, dan Sekolah Kejuruan. Semua atas biaya dari pondok.

