Santri Kutub dan Spirit Kesastraan

Lalu dia beranjak dari tempat duduknya, setelah sekian teman-teman yang lain ikut melingkar di depan deretan buku-buku yang sudah teracak-acak. Dan dia mengambil satu buku yang berjudul Jagadnya Gus Zainal, buku yang ditulis oleh teman dan santrinya Gus Zainal semasa hidupnya.

“Gus Zainal Arifin Thaha atau yang lebih akrab dengan panggilan Gus Zainal, mendirikan Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asyari tahun 1998. Pondok ini, sejak awal konsentrasi terhadap kajian-kajian sastra, maka tak heran jika pada akhirnya lahir Komunitas Kutub yang menggawangi kajian sastra. Hari ini, PPM Hasyim Asyari lebih dikenal dengan sebutan Komunitas Kutub Yogyakarta,” jelas Khairul Fatah selaku ketua Komunitas Kutub.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gus Zainal lahir di Kediri, Jawa Timur. Masa mudanya dihabiskan menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Setelah itu, Gus Zainal hijrah ke Yogyakarta, untuk kuliah di IAIN Sunan Kalijaga.

Yang menarik dari perjalanan Gus Zainal adalah ketekunannya dalam menghidupkan dunia literasi, khususnya teman-teman mahasiswa dari luar Yogya. Ini diceritakan oleh Aljas Sahni H, cerpenis Komunitas Kutub yang tulisannya nangkring di Media Indonesia, Suara Merdeka, dan koran-koran lokal lain.

Kegiatan yang biasa dilaksanakan di Komunitas Kutub, di antaranya adalah kajian sastra, diskusi pemikiran tokoh, dan kajian editorial. Sebagai anak-anak yang hidup di bawah naungan Pesantren Hasyim Asyari Yogyakarta, setiap malam Jumaat ada pembacaan selawat dan ngaji yasinan, disusul ziarah kubur pertengahan bulan. Teman-teman mengatakan, bahwa ini adalah jalan spiritualitas yang memang harus dirawat di tengah memperdalam dunia literasi.
Banyak santri menjalani proses pembelajaran, terutama di bidang literasi, di sini. Aljas Sahni H adalah satunya.

Tinggalkan Balasan