Ilustrasi Marx dan santri

“Santri Marxis”

Agama yang mayoritas tidak selalu berinteraksi dengan agama minoritas untuk menciptakan gerakan kolektif yang maha dahsyat. Padahal, jika agama mampu merangkul semua kelas sosial dan spektrum keyakinan, ia bisa menjadi instrumen untuk mengatasi kemiskinan yang telah berakar seperti dogma ekonomi di negeri ini. Di Indonesia, kemiskinan tidak semata data statistik; malahan sudah menjelma entitas metafisik, hadir lahir-batin, mengakar dalam setiap relung sosial, menjadi “tuhan” yang mengatur kehidupan warga.

Sebagai kaum muda, sebagai santri yang pernah menempuh perguruan tinggi, saya merasakan pahitnya mencari pekerjaan di negeri sendiri, kerasnya berjuang mendapatkan penghasilan layak, dan frustrasinya menghadapi struktur sosial yang timpang. Agama, dalam mimbar-mimbar resmi, jarang menyentuh persoalan ini. Khutbah, pengajian, ceramah—hampir selalu membahas takwa, salat, ritual ibadah—namun jarang menyoroti kemiskinan, padahal itu adalah isu yang paling nyata dan mendesak. Di sini muncul celah besar bagi santri untuk hadir sebagai agen perubahan: tidak semata menjadi penjaga dogma, harusnya sebagai perancang gerakan sosial-ekonomi yang menyejahterakan rakyat banyak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kalau melihat perspektif Marxisme, kemiskinan tidak semata-mata fenomena individual. Ia sejatinya justru hasil dari struktur sosial-ekonomi yang timpang, hasil dari akumulasi modal yang menekan proletariat. Agama, jika ditempatkan sebagai praxis, bisa menjadi alat kesadaran kelas yang etis dan manusiawi. Dalam terminologi mantiq, ini adalah predikat etis yang harus diaplikasikan pada subjek umat: menjadikan iman sebagai mekanisme perlawanan terhadap ketidakadilan.

Seandainya jika kita mendirikan perkumpulan lintas agama yang fokus pada kemiskinan—tidak sebatas memberi sedekah, namun mengorganisasi kelas-kelas bawah, mengadvokasi hak-hak buruh, melawan oligarki, melawan struktur yang membuat kemiskinan menjadi “tuhan.” Saya tidak sedang bicara utopia; ini adalah sintesis dari iman, ilmu, dan kesadaran sosial-ekonomi. Santri, dalam kapasitasnya sebagai intelektual keagamaan, bisa mengambil peran itu: menjadi katalisator gerakan rahmatan lil-‘ālamīn yang nyata, yang tidak hanya menyentuh satu kelompok, namun merambah seluruh spektrum masyarakat.

Dalam praktiknya, ini membutuhkan pemahaman mendalam terhadap matan agama, kemampuan mantiq untuk mengurai proposisi, serta kesadaran historis dan materialistis ala Marxisme. Kita harus bisa menegakkan predikat keadilan sosial pada subjek umat, sehingga agama tidak semata konten yang viral, namun harus jadi instrumen transformasi sosial yang autentik. Hanya dengan itu, kita bisa mengeksekusi potensi besar agama sebagai kekuatan moral-ekonomi.

Tinggalkan Balasan