Ilustrasi Marx dan santri

“Santri Marxis”

Kekhawatiran Syekh Kholil tentang “telur ayam yang bersuara” menjadi relevan di sini: terlalu banyak suara tanpa dasar, tanpa pemahaman yang benar, hanya menciptakan kebisingan yang melemahkan daya transformasi agama. Santri yang marxis hadir untuk menebus kekosongan ini, menyusun argumen yang logis, menganalisis struktur sosial-ekonomi, dan menegakkan moral etis yang berbasis iman. Inilah peran santri yang manusiawi: berpikir, memahami, dan bertindak.

Kalau kita mampu menyatukan agama mayoritas dan minoritas dalam satu gerakan besar melawan kemiskinan, kita akan menyaksikan implikasi rahmatan lil-‘ālamīn yang sejati. Ini tidak semata-mata membicarakan ekonomi atau moral, melainkan memadukan epistemologi agama, mantiq, dan kesadaran sosial-ekonomi menjadi praktik nyata. Santri marxis adalah panggilan untuk merekonstruksi dunia: dari kesadaran individu menuju aksi kolektif, dari ritual menuju gerakan sosial, dari dogma menuju keadilan material.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhirnya, menjadi santri tak cukup menjaga kitab dan tradisi, jauh dari itu kita harus menegakkan agama sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang radikal, kritis, dan manusiawi. Menjadi santri marxis berarti berani menempatkan iman pada medan perjuangan kelas, mengurai ketimpangan dengan prinsip-prinsip etis dan logis, dan menunjukkan bahwa agama, ketika dipahami dengan benar, mampu menjadi alat revolusi kemanusiaan, tidak semata-mata menjadi konten yang viral belaka.

 

Tinggalkan Balasan