Santri Pinjam Baju Santri

Pelan-pelan, batas yang dulu terasa begitu jelas mulai menghilang. Yang awalnya, “Maaf, boleh pinjam?” lama-lama berubah menjadi, “Pinjam bajumu ya.” Sandal yang awalnya harus bertanya, akhirnya tinggal dipakai. Peci yang tertinggal di kamar teman bisa menjadi penyelamat ketika hendak berangkat mengaji. Kitab yang belum dibawa bisa dipinjam sebentar. Bahkan barang-barang kecil yang awalnya terasa sangat pribadi, perlahan menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Anehnya, dari hal-hal sederhana itulah rasa dekat tumbuh. Kita mungkin tidak pernah merencanakan untuk menjadi sedekat itu dengan orang-orang di pondok. Tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang awalnya bahkan kita tidak tahu namanya, suatu hari bisa menjadi orang yang kita cari ketika membutuhkan sesuatu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Peciku mana?”
“Pakai dulu punyaku.”
“Sandalmu di mana?”
“Pakai saja punyaku, aku masih di kamar.” “Kitabmu sudah selesai?”
“Belum, tapi kamu pakai dulu.”

Percakapan-percakapan sederhana itu sebenarnya menyimpan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar meminjam barang. Ada kepercayaan di dalamnya. Ada rasa nyaman. Ada keyakinan bahwa barang yang kita pinjamkan akan kembali, dan bahwa ketika kita membutuhkan sesuatu, ada orang yang bersedia membantu.

Pondok pesantren bukan hanya tempat kita belajar kitab, mengaji, atau menjalankan rutinitas sebagai santri. Ia juga menjadi tempat kita belajar tentang berbagi dan hidup bersama.

Tinggalkan Balasan