Bergeser ke zaman setelah kemerdekaan, kredibilitas santri dalam menyesuaikan diri dengan kondisi sosial masyarakat sudah tidak dapat dimungkiri lagi. Kalau kita mengacu pada pendapat KH Makruf Amin yang mengatakan bahwa santri adalah orang yang ikut kiai, entah ia belajar di pesantren atau tidak, bisa membaca kitab kuning atau tidak. Yang penting dia manut kiai, ikut perjuangan kiai, itu adalah santri. Maka dari itu, presiden pertama kita pun adalah seorang santri. Karena menurut beberapa informasi, beliau pernah nyantri di KH Ahmad Dahlan.
Kemudian, setelah kemerdekaan ada sosok KH Idham Chalid yang menjadi politisi penting zaman Soekarno, yaitu menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (24 Maret 1956-9 April 1957), Kabinet Djuanda (9 April 1957-9 Juli 1959), dan dalam dua Kabinet Dwikora (22 Februari 1966-25 Juli 1966). Setelah itu ada KH Wahid Hasyim yang menjadi Menteri Kabinet, dan masih banyak lagi santri yang berprestasi dalam mengabdi di pemerintahan pada awal-awal kemerdekaan.

Ada lagi Resolusi Djamaluddin Malik yang sedikit sekali diketahui oleh masyarakat. Peristiwa itu terjadi pada 1967, yaitu ketika Ketua MPR dijabat oleh Jendral AH Nasution. Di tengah Sidang Umum MPR, muncullah Resolusi Djamaluddin Malik yang diusulkan oleh H Djamaluddin yang meminta agar Presiden Soekarno diberhentikan dan diganti oleh Jendral Soeharto. Usulan tersebut diterima dan sekaligus menjadi ketetapan MPR. Namun, sejarah mencatat, pergantian Presiden RI dari Soekarno kepada Soeharto pada tahun 1967 dikarenakan adanya Supersemar. Tidak banyak yang tahu terjadinya perubahan itu, atas inisiatif santri NU yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR GR. Memasuki era 2000-an, Gus Dur yang seorang santri berhasil menjadi RI 1 dan dan sekarang seorang santri menjadi Wakil Presiden.
Jadi, statemen yang mengatakan bahwa santri adalah kaum sarungan yang tertinggal adalah ungkapan yang keliru. Banyak sekali prestasi santri yang berhasil ditorehkan, hanya saja media massa tidak terlalu simpati pada hal tersebut. Siapa yang menyangka santri Sumut, yang bernama Ja’far Hasibuan, mendapatkan medali emas di kejuaraan internasinal Sanghai karena mampu mengubah udang menjadi obat kulit. Atau siapa yang mengira santri MBI Amanatul Ummah yang berdomisili di lereng Gunung Welirang Pacet, Mojokerto, Jawa Timur yang notabene hanya berkutat dengan pena dan kitab kuning, mampu menjuarai kompetisi matematika dan robotika tingkat ASEAN. Ada juga prestasi santri Indonesia di tingkat dunia, seperti memenangi musabaqoh hifzil quran tingkat internasional yang diikuti oleh 80 negara di dunia. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
