Namun kenapa yang menjadi sorotan saya pribadi justru atribut? Mengapa bukan dawuh (perintah) krusial lainnya?!
Jawaban sederhana saya adalah, songkok sudah menjadi tradisi baik di pesantren, meskipun bukan termasuk dari ajaran agama. Namun kenapa sebuah atribut dapat “mengubah” suatu hubungan antara guru dengan murid? Karena ia mencerminkan suatu tatakrama (akhlak) dalam domain pesantren.

Saya tidak ingin berbicara soal, ketika ditanya, model songkok yang seperti apa yang mencerminkan tatakrama agar seseorang dianggap sudah mencapai kriteria berakhlak. Atau bahkan, bertanya, ukuran songkok yang sesuai dengan akhlak. Itu kembali kepada tolok ukur pantas/tidaknya.
Status atau Identitas
“Santri bukan status, tapi identitas.” Demikian dâbu KH M Ainul Yaqin, salah seorang putra al-maghfûr lahu Kiai Basyir. Santri adalah identitas. Ia melekat pada pribadi dan karakter, bahkan jiwa. Menjadi santri adalah selamanya, pun ketika sudah tiada. Ia bukan siklus yang berlaku pada suatu masa, menurut situasi dan kondisinya, akan berubah.
Demikian pula dengan songkok. Ia telah menjadi suatu identitas yang melekat pada seorang santri Annuqayah Latee. Namun apakah songkok yang saya maksud adalah sebagai sebuah atribut? Barang tentu bukan. Ia sebagai “identitas”. Hal ini saya mulai sadari di saat melaksanakan salat tarawih pada Ramadan kemarin bersama dengan beberapa alumni Annuqayah yang berada di Yogyakarta.
Pada suatu rakaat, dâbu Kiai Basyir (Santre Latee se ta’ asongko’an, ta’ eakoa tang santre) terlintas di pikiran. Usai salat tarawih dan witir, saya terus termenung dan berusaha memaknai ulang atas perkataan tersebut. Sampai muncul konklusi di otak saya, bahwa songkok yang dimaksud adalah kepribadian dan karakter sosok santri sejati.
Dekonstruksi ini lahir tatkala saya mendapati beberapa teman alumni pada saat bermuamalah dan bahkan ketika melaksanakan ibadah salat tidak bersikap laiknya seorang santri, sementara mereka tengah mengenakan songkok. Dari sini saya menyadari bahwa songkok itu bukan atribut belaka. Ia sekaligus mencerminkan karakter santri.
