Santri, Songkok, dan Identitasnya*

Ternyata, selama lebih dari satu dekade saya sudah “salah” memahami dawuh itu. Jika saya tetap ngotot untuk memahaminya secara harfiah, maka pemahamannya akan sangat problematik. Dalam arti bahwa suatu atribut selamanya tidak akan menunjukkan sebuah jati diri; identitas.

Karenanya perlu pemaknaan yang lebih selaras dengan realitas. Dan “songkok” yang saya pahami dari maksud Kiai Basyir adalah sebuah identitas seorang santri Annuqayah Latee. Artinya, di manapun saya berada, dalam kondisi apapun, saya harus bersikap sebagaimana seorang santri yang diimpikan oleh sang Kiai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika ditarik pada suatu keterangan hadis, kita dapat menarasikan makna tersebut dengan sabda Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kita, akan tetapi melihat (menilai) dari hati dan cara kita beramal. Atau dalam Al-Qur’an, kita kaitkan dengan firman Allah bahwa paling mulia ialah mereka yang paling bertakwa.

Dari narasi dua asas Islam ini, dapat dipahami dan disadari jikalau apa yang zahir belum tentu menunjukkan sisi batinnya. Persis dengan yang terjadi pada pengalaman pribadi di atas. Dalam konteks ini, songkok tidak selamanya mencerminkan sosok santri sejati. Ia bisa saja hanya atribut yang secara formalitas atau kebetulan dipakai dan menjadi tradisi.

Namun saya tidak mengatakan atau bahkan melegalkan bahwa santri, terlebih santri atau alumni Latee, tidak masalah kalau tidak mengenakan songkok. Hal ini kembali kepada tradisi baik kita dulu di pesantren dan bagaimana menyikapinya secara personal namun penuh sadar.

Maka adalah benar nasihat KH Abd. A’la, putra al-maghfûr lahu Kiai Basyir, tatkala saya nyabis untuk pamit melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, “Sènga’ jé’ loppaè ba’an santrèna Kiai Ahmad Basyir (Jangan sampai lupa, kamu ini santri Kiai Ahmad Basyir).”

Dari sini, pemahaman saya akan “songkok” menjadi lebih luas. Songkok bukan hanya atribut yang dipakai di kepala, melainkan ia adalah identitas yang selalu melekat pada diri seorang santri. Dari sini pula saya menyadari bahwa seorang guru tidak akan pernah memutus hubungan dengan santrinya. Kecuali santrinya yang, secara sadar atau tidak sadar, memutus sendiri hubungannya dengan sang guru. Wa allâhu a’lam.

Semoga kita dapat meneladani para Masyayikh dan diakui sebagai santrinya. Amin.

Tinggalkan Balasan