Bagi santri, bahasa Arab bukan hanya bahasa yang dipelajari di dalam kelas. Ia terdapat dalam bacaan Al-Qur’an, hadis, kitab kuning, doa, hingga berbagai karya ulama yang menjadi bagian dari tradisi keilmuan pesantren.
Untuk memahami bahasa tersebut secara lebih mendalam, santri tidak hanya membutuhkan perbendaharaan kosakata. Ia juga memerlukan alat untuk memahami bagaimana kata-kata dalam bahasa Arab dapat berubah bentuk dan menghasilkan makna yang beragam.

Alat itu disebut saraf, yang merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang mempelajari perubahan bentuk kata. Jika nahu membantu santri memahami kedudukan sebuah kata dalam susunan kalimat, maka saraf membantu santri memahami bagaimana sebuah kata dapat mengalami perubahan bentuk dan bagaimana perubahan tersebut berkaitan dengan maknanya.
Dengan kata lain, saraf tidak hanya melihat sebuah kata sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi juga menelusuri asal-usul dan perubahan bentuknya.
Misalnya, salah satu keindahan bahasa Arab terletak pada sistem akar katanya. Dari satu akar kata, dapat lahir berbagai bentuk kata dengan makna dan fungsi yang berbeda.
Contohnya adalah akar kata كَتَبَ (kataba) yang memiliki makna dasar “menulis”. Dari akar tersebut dapat ditemukan bentuk lain seperti كَاتِبٌ (kātib) yang berarti “penulis”, مَكْتُوبٌ (maktūb) yang berarti “yang ditulis”, dan كِتَابٌ (kitāb) yang berarti “buku”.
Perubahan bentuk tersebut bukan terjadi secara acak. Ada pola-pola tertentu yang dipelajari dalam ilmu sharaf.
