Negeri Nepo

Tiba-tiba seorang penyair berkacak dan mengepak, lantang berteriak, melontarkan sebaris sajak: “Hidup adalah nepotisme!”

Kafe itu langsung hening. Kafe adakopi, namanya, tapi tak pernah ada kopinya. Jadi kalau kita mau nongki-nongki di situ, ya harus membawa kopi sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Filosofinya: ada berarti harus selalu tersedia. Selalu tersedia itu berarti sesuatu yang harus diikhtiarkan. Dari situlah akhirnya “ada” dalam nama kafe itu identik dengan membawa sendiri kopinya. Filosofi yang kacau, bukan? Tapi bukankah filsafat seringkali berangkat dari kekacauan?

Keheningan kafe itu berakhir ketika seseorang yang sedang berguru menjadi penyair menimpali. “Bukankah, kata penyair-penyair zaman dulu, ‘hidup adalah perjuangan?’ Itu artinya hidup adalah patriotisme. Bukan nepotisme.”

Timpalan itulah yang akhirnya memantik diskusi. Diskusi di antara mereka yang selalu merayakan kepapaan di kafe itu. Mereka yang bukan siapa-siapa dalam definisi hari ini. Karena bukan siapa-siapa, saya tak perlu menyebutkan nama-nama mereka dalam tulisan ini.

Tapi mereka sering terlihat kekurangan waktu saking sibuknya: Mengarang, membaca, mendiskusikan puisi; menulis cerita dari cerita hidupnya sendiri; membuat pertunjukan untuk memanggungkan kisah hidup yang mereka bayangkan sendiri; mengajari apa saja kepada orang-orang yang malas belajar; mendesak orang-orang untuk membikin ini-itu yang menyebabkan mereka makin terdesak.

Dan di kafe itu, dipicu teriakan sajak itu, mereka saling bersahutan. Seperti pertunjukan tanpa sutradara. Bahkan pengarah gaya

Tinggalkan Balasan