Satu Cerita Tiga Tokoh Bayangan

Akan saya ceritakan kepadamu tentang Gumira yang selalu menunggu dan akhirnya jatuh cinta kepada senja. Senja yang bias cahayanya menyelinap ke balik jendela. Senja yang sulur warna cahayanya membuat Gumira selalu berdebar. Senja yang tak pernah ia tinggalkan meski hanya sesaat.

Gumira benar-benar memerhatikan efek detail cahaya senja dengan penuh seluruh dan mencatat setiap efek bayangan yang ditimbulkan dalam lembaran buku kusam, dan Gumira menyebutnya Kitab Omong Kosong.1

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perihal sebutan Gumira terhadap buku kesayangannya itu tentu tak ada hubungannya dengan subjudul buku Raja Omong Kosong2-nya Salman Rusydie, novelis kenamaan yang lahir dan besar di Bombay, India. Tidak, sama sekali tidak ada hubungannya. Gumira menyebut Kitab Omong Kosong karena semata-mata sampai malam menjelang ia belum menemukan judul yang cukup mewakili kepingan-kepingan gagasannya.

Nah, datanglah menjelang petang. Datanglah dan berdirilah di seberang jalan atau di antara bangunan-bangunan tua, kemudian pandang dan perhatikan sebuah jendela yang menghadap persis ke jalan raya.

Kamu tahu? Di jendela itulah, Gumira, setiap sore berdiri menunggu senja tiba.

Setiap menjelang petang jendela itu bagai dilapisi akelik, emas, dan sepintas pada sela-sela jendela bagai tersimpan mutiara yang akan membuatmu tak akan bisa berpaling. Dari jendela itulah Gumira senantiasa melihat segala sesuatu, termasuk sesosok lelaki tua yang berjalan pelan, dan tak jauh dari lelaki itu seorang pemuda berambut sepunggung sambil berjalan lebih pelan ia terus memandang ke tanah, mencari sesuatu yang entah apa. Ya, setiap kali melintasi jalan itu lelaki muda itu merunduk dan sesekali membuang pandang ke arah perempuan paro baya di seberang jalan, perempuan yang setiap saat bersandar pada jendela.

Gumira tak pernah memerhatikan sungguh-sungguh dua lelaki dan satu perempuan itu. Setiap kali sepasang matanya bersitatap-pandang, Gumira hanya menyunggingkan senyum, sesekali berkata lirih. Ah, Danarto, gumamnya. Gus Noor, hei, ngapain ia sore-sore begini di jalan raya? Mungkinkan ia tengah mencari Sepotong Bibir di Jalan Raya?3

Dan perempuan itu, ah, sesungguhnya Gumira penasaran pada perempuan itu. Ia merasa tidak asing dengan perempuan yang berdiri di balik jendela rumah seberang jalan itu. Bukankah itu Alina?Gumira bertanya ragu. Seandainya Gumira tak ingin kehilangan keindahan senja dan ia sudah berjanji sebelum menemukan judul atas buku itu ia tak akan pernah beranjak. Kalau saja judul itu sudah kutemukan sudah pasti aku bergegas menemui Alina.

Gumira memang tak pernah berhasil. Lebih tepatnya selalu kurang puas setiap kali dapat ide judul untuk kitab tuanya itu. Mula-mula ia memberinya judul Negeri Kabut, Kitab Omong Kosong, tapi kemudian ia mengelak dan merasa judul tersebut kurang mewakili kepingan gagasan yang sudah ia catat di lembar-lembar halamannya yang kusam.

Hingga akhirnya diam-diam Gumira keluar dari kamarnya menemui Gus Noor. Gumira tahu, Gus Noor adalah salah satu pengagum dirinya. Dan kepada Gus Noor itulah Gumira berpesan, jika sekali waktu bermuka-muka dengan sepotong senja yang sanggup melahirkan ide untuk sebuah judul besar kitab yang sampai detik ini terus ia bawa ke mana hendak pergi hingga habis terkikis sepoi hari.

“Semoga ini bukan kitab penghabisan,” harapnya, “kuharap kau mau bersusah sungguh, anak muda, mencari dan menemukan hakikat dari senja hingga kau berjumpa dengan judul yang kedatangannya bukan karena dipaksa, tapi ia datang karena ia memang menginginkan dirinya menjadi bagian dari rencana besar dan gagasan-gagasanku.” Gus Noor terus menunduk mendengar petuah sang idola. “Ini, sebuah kitab yang pada setiap halamannya dipancari cahaya senja. Meminjam istilah lelaki di depanmu itu,” Gumira menunjuk ke arah Danarto yang terus berjalan ke arah barat, “setiap halaman dari kitab ini penuh dengan lempengan-lempengan cahaya.”4

“Bagaimana kalau diberi judul Negeri Senja,” usul Gus Noor. Gumira berpaling, memandang nanap ke luar jendela.

“Negeri Senja,” Gumira mengulang usulan Gus Noor, “atau bagaimana kalau…”

“Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Sebentar lagi senja akan tiba, aku ingin kau pergi. Aku ingin sendiri,” potong Gumira dan lekas berpaling meninggalkan Gus Noor.

Ketika hari beranjak petang dan senja menjelma garis-garis portal di sepanjang jalan raya bebas hambatan ia terhenyak dan, ketika awan kumulus mengirimkan gerimis ke batas kota yang seluruh penghuninya tak mau beranjak dari kamar masing-masing, pekerja-pekerja segera berkemas dan meringkuk di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan petugas keamanan lantaran larangan keras bagi semua penghuni kota yang berada di luar rumah apalagi berseleweran di jalanan. Bagi penghuni kota yang coba-coba melangggar akan dikenai sangsi berat. Maka, semenjak larangan itulah kota itu benar-benar menyerupai kota mati, tanpa penghuni. Satu-satunya hiburan bagi mereka adalah ketika petang mengambang dan efek cahaya senja ada yang menjelma liontin, kalung, selendang di teratak-teratak rumah, di beranda dan pada saat itulah mereka berebut celah lubang-lubang untuk mengintip memandang takjub pada garis-garis senja. “Menakjubkan,” komentar seseorang.

“Andai saja kita punya perhiasan dengan warna seindah senja.”

“Bila perlu akan kupotong senja itu dan akan kujadikan hadiah. Ya, sepotong senja untuk pacarku.” ujur Gus Noor.

“Hass… Seno… Has…Salman…” dehem seseorang.

“Ya?” seorang lelaki berpaling. Tanpa diminta ia memperkenalkan dirinya, “namaku Salman Rusdie, cahaya sepotong senja itu,” sejenak ia berpaling kepada seorang yang baru saja berdehem. “Kau tahu akan kujadikan apa cahaya yang maha indah itu?” sejenak Salman Rusdie berpaling, “Cahaya senja itu akan kujadikan sulaman dan racikan pewarna akik,” imbuhnya.

“Aku akan menjadikannya cahaya di tengah kegelapan.”

Sementara, di balik jendela, Gumira terus berdiri.

Ya, setiap matahari lingsir ke barat, awan-awan berarak mengiringi jejak langkah penghuni kota yang penuh debar, tak sabar ingin segera menyaksikan kemilau dan riap senja dari celah-celah persembunyian. Ya, karena hanya garis senja itulah satu-satunya pemandangan paling menakjubkan. Bagi mereka garis senja teramat sangat berharga, seperti sebuah benda yang sangat keramat, tak boleh terlewat meski dalam sekejab. Gumira sendiri tak pernah berhasil memahami kenapa penghuni kota itu lebih mencintai senja ketimbang bintang, sulur fajar, matahari, dan bunga-bunga yang mekar.

Sekali waktu Gumira sengaja berdiri di balik jendela mengintip orang-orang yang bergegas keluar dan betapa kesalnya ia ketika melihat orang-orang berpaling dan anehnya, tak seorang pun peduli pada kelopak bunga dan matahari yang beranjak naik. Hanya dirinya, dirinya yang terpukau kagum pada bias kumulus awan, matahari yang menjelma mata seorang gadis, tulus dan tak membosankan dipandang.

Sesaat Gumira menarik napas dan tak lama berselang dipandanginya orang-orang yang bergegas itu. Bayang-bayang orang-orang itu memanjang ke depan, sementara mereka yang berjalan berlawanan arah bayangan tubuhnya sedikit menyamping, bertubrukan antara bayangan orang yang satu dengan yang lain. Gumira, memandang tajam, seulum senyum mengembang. Sesekali dahinya berkerut, barangkali ia menemukan sesuatu yang ganjil di antara kerumunan itu, sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Ia menerka-nerka dan bertanya: kenapa mereka tergesa-gesa mengejar bayangannya sendiri? Sesat Gumira tersentak kaget ketika tiba-tiba terdengar gedoran pintu. “Sukab,5  mengapa kauculik anak kami?”6 tanyanya dengan nada penuh amarah. “Sukab, Sukab!”

Gumira tampak gemetar, wajahnya pucat, “ak… aku bukan Sukab,” suara Gumira serak. “Namaku Seno Gumira Adjidarma,” imbuhnya.

“Benar kau bukan Sukab?” selidiknya.

Benar, aku bukan Sukab,”

“Buktikan. Keluarlah bawa katepemu!” perintah orang tak dikenalnya itu. Apakah mungking itu Sulaksana? Gumira membatin sendiri.

Tinggalkan Balasan