“Itu suara Alina,10 Pak Dar,” jawab Gumira pendek.
“Suara Alina? Jadi itu bukan suara ibu Fatimah, gadis Palestina itu?”

“Bukan, Pak Dar, itu suara Alina.”
“Hah? Di manakah Alinaku? Di mana?” sontak Gus Noor yang sedari tadi merunduk mencari sepotong bibir itu beranjak mendekati Danarto yang masih terpukau kagum.
“Hei, Gus, bagaimana dengan titipanku? Sudahkah kau serahkan sepotong senja untuk Alinaku? Sudah bertemukah kau dengan sepotong senja yang sanggup melahirkan gagasan?” tanya Gumira. Gus Noor terperangah. Ia memandangi Gumira antara riang dan malu. Riang karena sepotong bibir yang ia cari sudah hampir diketemukan, paling tidak nama pemilik bibir itu sudah ia dengar. Alina, Alina, Gumira, Gumira. Oh… seru Gus Noor.
Gumira menyingkap tirai jendela, ia acuhkan seruan Gus Noor, ia biarkan Danarto yang terus penasaran dan kagum dengan suara perempuan yang kini tengah berdiri di balik loteng di seberang jalan. Mampus kau dikoyak-koyak sepi!11 gumam Gumira sembari membuka halaman kitab yang hingga kini ia belum menemukan judul untuk kitabnya itu. Mungkinkah ini kitab kuberi judul Kitab Omong Kosong? Bagaimana kalau Tokoh Bayangan? Dalam sepoi sepi, Gumira membatin.
Segaris cahaya senja menyelinap dan membentuk garis tipis pada tirai yang sesekali bergerak pelan. Garis cahaya senja itu sesekali menjelma tokoh wayang, bergerak ke sana-kemari mengikuti gerak tirai yang diayunkan angin. Dari rumah seberang sayup-sayup Gumira mendengar perempuan itu menyenandungkan potongan bait puisi Senja di Pelabuhan Kecil-nya Chairil Anwar dalam iringan musik jaz:
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
mengembus diri dalam mempercaya mau berpaut
…..
Di luar, hari benar-benar gelap sementara Gumira masih terus menderas sebuah kitab yang hingga petang mengambang, judul kitab tua itu tak kunjung ia temukan. Di atas meja tempat ia mendedah halaman-halaman kitabnya kesunyian kian akrab mendekap Gumira.
Jogja-Depok Terluar, 2015-2024.
Catatan:
1. Kitab Omong Kosong adalah kumpulan cerpen Seno Gumira Adjidarma, prosais Indonesia yang sangat produktif. Dalam setiap karya-karya Seno, metafor-metafor senja sangat dominan. Beberapa karya Seno yang sudah terbit antara lain, Kitab Omong Kosong, Sepotong Senja untuk Pacarku, Negeri Kabut, Mengapa Kau Culik Anak Kami, dll.
2. Raja Omong Kosong adalah salah satu bagian dari cerita anak Salman Rusydie, terkumpul dalam buku Harun dan Samudera Dongeng. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Serambi, Jakarta. 2011.
3. Sepotong Bibir di Jalan Raya adalah salah satu cerpen karya Agus Noor.
4. Lempengan-Lempengan Cahaya salah satu satu cerpen Danarto yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Setangkai Melati di Sayap Jibril.
5. Selain Alina, tokoh bernama Sukab selalu muncul dalam cerpen-cerpen Seno Gumira Adjidarma.
6. Mengapa Kau Culik Anak Kami adalah judul Cerpen Seno Gumira Adjidarma.
7. Tempat Terindah untuk Mati adalah salah satu cerpen Seno Gumira Adjidarma.
8. Salah satu fragmen dan perempuan yang memainkan piano di tengah bentangan sawah adalah bagian dari tokoh cerpen karya Danarto yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpen Godlob.
9. Nama Fatimah adalah tokoh cerpen Danarto yang berjudul Lempengan-Lempengan Cahaya.
10. Dalam beberapa cerpen Seno, selain tokoh bernama Sukab tokoh Alina selalu muncul dalam cerpen-cerpennya.
11. Mampus kau dikoyak-koyak sepi dikutip dari puisi SIA-SIA karya penyair Chairil Anwar. Saya kutip secara lenglang di sini:
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa kembang dan berkarang
Mawar merah dan melati putih
Dan rah dan suci
Serta kupandang yang memastikan: untukmu.
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti
Sehari kita bersama. Tak hampir mengerti
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Ilustrasi gambar: Condro Priyoaji.
