“Tidak. Aku tidak mau keluar, aku takut kehilangan senja. Aku tidak mau!”
Tanpa berkata-kata lagi orang itu menendang pintu, menggedor dan bahkan mengancam akan merubuhkannya. Tapi anehnya suara teriakan ancaman itu menjelma suara seorang penyanyi yang merdu didengar, dan suara gedoran pada pintu yang tetap kokoh bagai suara rancak perkusi dan, tanpa terasa Gumira berdiri dan menari-nari hingga suara seseorang yang mencari Sukab tak terdengar lagi.

Gumira terus menari seiring jejak langkah orang-orng di jalanan yang terus berlarian. Bagi Gumira suara itu seperti suara komposisi musik jaz yang tak bosan didengar. Dan pertanyaan yang sempat hinggap dalam benaknya; kenapa mereka senang memburu bayangannya sendiri seketika sirna. Ya, sirna, seperti juga mereka yang seketika melupakan beban, petugas kota yang setiap saat datang dengan segala larangan.
Lihatlah, lihat, kini Gumira mengambil kamera dan memotretnya, klik, pret, klik. Preet… Dan, astaga… Gumira mengarahkan lensa kamera pada sesosok Alina yang hanya mengenakan baju tidur dan berada di tengah-tengah orang-orang yang berlarian. Lekuk-lekuk tubuh perempuan itu tampak jelas terlihat. Oh, alangkah anggunnya, Gumira bergumam. Separo wajahnya terbingkai jendela. Rambutnya yang sudah memutih tampak keperakan saat diterpa cahaya senja.
Sadar perempuan itu diperhatikan lekas ia menghindar dan menyelinap menuju tangga sebuah loteng tua di seberang jalan. Sementara di jalanan orang-orang masih terus berlarian. Sambil berlarian orang-orang itu meneriakkan kata-kata yang entah ditujukan kepada siapa.
Sepasang mata Gumira masih terus mencari-cari sesosok perempuan yang ia yakini tak lain adalah Alina.
“Sisakan seliang untukku, Anakku. Cepatlah. Cepat, sebelum senja berganti petang!” teriak seorang lelaki lanjut usia. Dan lelaki yang dipanggil anak itu pun bergegas, menerobos dan menyelinap.
‘Hei. Kau tak boleh seenaknya main salip-menyalip, mentang-mentang laki-laki punya tenaga lebih,” rutuk seorang perempuan yang mengenakan kaus putih dan bertuliskan Saman.
“Siapa yang cepat itu yang dapat,” jawab lelaki itu acuh dan terus berlari.
“Dasar tak menghargai kesetaraan,” perempuan itu mendesis bengis.
“Cepatlah. Cepat sebelum gelap menyelimuti kota,” imbau seorang lelaki berpakaian Satpol PP.
“Kemana sebenarnya kita akan menuju?” tanya seorang gadis kepada ibunya.
“Mencari tempat terindah untuk mati,”7 jawabnya.
“Hah? Asytagfirullah…” Danarto yang mendengar percakapan itu mengelus dada lantaran orang-orang berani mendahului takdir.
“Cepatlah, Pak Danarto…” teriak seorang lelaki muda yang datangnya entah dari mana. “Ini bukan waktunya meratap. Kita mesti cari seliang dua liang buat jasad kita,” desak anak muda itu, dan, “Aduh,” mendadak ia mengernyitkan kening ketika melihat seorang lelaki yang rambutnya sepunggung membungkuk mencari-cari sesuatu.
“Hei, Gus Noor, apa yang kamu cari dalam suasana genting seperti ini?” serunya. “Cepatlah sebelum hari benar-benar gelap.”
“Memang kenapa kalau gelap. Kenapa kalau genting? Biarlah aku menjadi bagian dari kegelapan,” ketus Gus Noor dengan sepasang mata terus memandang awas ke bawah, mencari sesuatu entah apa. Tapi memang tak ada apa-apa di sana. Hanya sisa jejak langkah orang-orang yang entah menuju ke mana.
“Hei, anak muda, bantu itu temanmu,” teriak Danarto. “Apa yang ia cari?”
“Biarin.” Anak muda itu terus belari, meninggalkan Danarto dan Gus Noor yang terus merunduk-runduk mencari sesuatu, entah apa. Danarto yang sedari tadi mengamatinya diam-diam pun terpancing untuk menghampirinya hingga akhirnya dengan susah payah Danarto beranjak dari tempatnya berdiri, mendekati lelaki yang dipanggil Gus Noor.
“Hei, apa yang kamu cari?” dengan suara serak Danarto bertanya. Gus Noor acuh, ia terus merunduk dan merutuk lelaki yang menanyainya.
“Sepotong bibir dan sepotong senja,” hardik Gus Noor. Danarto tersentak, sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepala.
“Dunia macam apa yang ada di kepalamu, wahai anak muda?” tanyanya kemudian menjauh. “Dalam kekacauan seperti ini masih sempat-sempatnya memikirkan sepotong senja,” bisik Danarto.
“Demi lempengan-lempengan cahaya.” Mendengar kalimat lempengan-lempengan cahaya, Danarto seketika berpaling, diperhatikannya Gus Noor.
“Apa katamu?” tanya Danarto dengan nada serak.
“Lempengan-lempengan cahaya, orang tua!” seketika Danarto mendongak ke sumber suara seorang perempuan. Suara itu teramat sangat merdu hingga membuatnya merinding. Mungkinkah itu suara seorang perempuan yang kerap memainkan piano8 di tengah sawah ataukah itu suara ibu Fatimah9 yang anak gadisnya telah menelan lembaran-lembaran ayat-ayat suci? tanyanya setengah mengigau.
Sejenak suasana hening. Perempuan yang berteriak dari atas loteng itu pun tak tampak namun suaranya yang merdu ketika meneriakkan kalimat “Lempengan-lempengan cahaya,” suara itu terdengar seperti desau angin mengelus sekujur tubuh. Hangat dan membuat hati Danarto tak kalah berdebarnya dengan orang-orang yang setiap matahari langsir dan berarak hingga senja tiba.
Tak lama berselang suara yang lain membuat Danarto semakin tersentak dengan penuh takjub. “Benar, Pak Dar,” timpal Gumira yang sedari tadi mengintip dan diam-diam memerhatikan sosok perempuan yang berdiri di balik jendela.
Danarto melihat sesosok lelaki, Gumira. Hassyuh, rutuk Danarto sebelum berpaling mencari sesosok perempuan yang memiliki suara yang teramat merdu. “Hei, Gumira, tidakkah kau dengar suara seorang perempuan yang lembut dan merdu suara suaranya seperti denting piano?” tanyanya pada Gumira.
