Kehadiran teknologi memang penting, tetapi siapa yang mengajarkan kita untuk bertanya: teknologi untuk siapa? Untuk apa? Dengan konsekuensi seperti apa? Maka tanpa filsafat, kita mungkin akan lebih cepat sampai ke tujuan, tapi tak tahu apakah tujuan itu layak dituju. Dunia membutuhkan insinyur, dokter, dan data scientist, tetapi dunia juga membutuhkan mereka yang mau dan mampu bertanya: “Apa makna menjadi manusia di tengah dunia yang otomatis dan serba algoritmik ini?”
Maka, jika jurusan filsafat dihapus, yang hilang bukan hanya satu cabang ilmu di universitas. Yang hilang adalah ruang di mana manusia diajak berpikir tentang dirinya, masyarakatnya, dan masa depannya—dengan kebebasan, ketajaman, dan keberanian intelektual. Dan jika ruang itu hilang, kita harus bertanya: apa yang akan tersisa dari manusia, selain mesin yang bekerja dan mengikuti perintah tuannya?

