Ia melanjutkan. “Orang gemar mencari satu penyebab bagi setiap keberhasilan. Mereka menyebut kecerdasan, kerja keras, disiplin, atau pendidikan tinggi. Padahal hidup jarang berjalan sesederhana itu.”
Saya mengangguk. Ia kembali berkata pelan. “Kalau ditanya mengapa aku bisa sampai di titik ini, aku bisa menyebut kerja keras. Aku bisa menyebut guru-guru yang baik. Aku bisa menyebut kesempatan. Aku bisa menyebut buku-buku, dan beasiswa. Semuanya memang benar.”

Ia berhenti sejenak. “Tapi ada satu hal yang tidak pernah masuk ke dalam daftar itu.” Saya mengerutkan dahi, kemudian bertanya dengan penasaran, “Apa itu, Prof?”
“Doa ibuku, doa ayahku.”
Saya terdiam. Ia tidak sedang berbicara tentang sesuatu yang bisa diukur dengan angka. Tidak ada grafik yang menunjukkan hubungan antara doa seorang ibu dengan beasiswa. Tidak ada persamaan matematika yang membuktikan bahwa rida ayah menghasilkan gelar profesor.
Namun, ia berkata dengan keyakinan yang tenang. “Banyak pintu yang menurutku terbuka bukan karena aku pandai mengetuknya. Entah mengapa, pintu itu seperti memang dipermudah begitu saja.”
Ia menatap ke luar jendela. “Dulu, setiap kali aku berangkat belajar, ibuku tidak pernah memberi petuah panjang. Beliau hanya mengusap kepalaku sambil berdoa. Entah doa apa yang beliau bacakan. Ayahku pun tidak pandai merangkai kalimat indah. Beliau hanya berkata, ‘Belajar yang sungguh-sungguh, nak. Jangan lupa salat.’ Waktu itu aku menganggapnya biasa.”
“Baru setelah usia bertambah, aku baru sadar, mungkin yang mengantarkanku sejauh ini, bukan hanya langkah kakiku saja.”
Saya menyukai kalimat itu: mungkin yang mengantarkanku sejauh ini, bukan hanya langkah kakiku saja.
