Sebelum Kita Dikenal oleh Dunia

Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dijelaskan seluruhnya oleh kemampuan diri. Kita boleh menyusun rencana sebaik mungkin. Kita boleh bekerja hingga larut malam. Kita boleh memperluas relasi dan meningkatkan kompetensi.

Akan tetapi, selalu ada ruang yang tidak dapat kita isi sendirian. Mungkin, di ruang sanalah doa orang tua bekerja. Bukan sebagai pengganti ikhtiar, melainkan sebagai angin yang mendorong layar perahu ketika tenaga kita mulai habis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap anak yang berbakti pasti menjadi profesor. Hidup tidak bekerja sesederhana itu. Karena banyak anak yang telah merawat kedua orang tuanya sampai akhir hayat, namun hidupnya tetap penuh ujian. Banyak pula orang yang tampak berhasil menurut ukuran dunia, meskipun hubungannya dengan orang tuanya tidak baik.

Karena itu, tulisan ini bukan tentang rumus kesuksesan. Ini tentang sesuatu yang sering terlambat kita sadari. Bahwa ada orang yang diam-diam menyebut nama kita dalam doanya ketika kita sendiri sedang sibuk mengejar dunia. Bahwa ada tangan yang terangkat pada sepertiga malam, sementara kita bahkan tidak tahu sedang didoakan apa. Bahwa ada harapan yang terus dipanjatkan, meski tidak selalu diucapkan di hadapan kita.

Mungkin benar, keberuntungan memang tidak seluruhnya bernama kecerdasan. Sebagiannya, lahir dari hati yang tulus berharap agar kita baik-baik saja. Mungkin itulah sebabnya orang-orang tua dahulu merangkumnya dalam satu kalimat yang begitu singkat:

Indung tunggul rahayu. Bapak tangkal darajat.

Kalimat itu tidak sedang menjanjikan hidup tanpa kesulitan. Ia hanya mengingatkan bahwa di balik perjalanan seorang anak, sering kali berdiri dua orang yang namanya jarang disebut ketika keberhasilan datang.

Sebab, sebelum kita dikenal oleh dunia, ada dua orang yang lebih dahulu memperkenalkan nama kita kepada langit, melalui doa-doanya. Teruslah berbuat baik pada mereka. Wallahu A’lam Bimuradihi.

Tinggalkan Balasan