“Di sini akan dibangun hotel kelas mewah. Orang sepertimu tak pantas tinggal bersama kami. Cepat pergi!” suara lelaki jangkung semakin keras.
Ia kembali mendekati si pengemis seperti hendak menyakitinya lagi. Si pengemis perlahan bangkit meski sambil menahan rasa sakit. Ia melangkah tertatih. Bibirnya mengaduh dan gemetar. Roti yang semula tersimpan di sakunya jatuh ke tanah, tepat berguling pelan ke dekat si burung. Spontan paruh burung itu penuh liur dan ambil aba-aba untuk mematuk. Tapi tangan si pengemis sigap memungutnya.

“Bagi dua saja ya!” suaranya lirih dan ramah.
Lelaki jangkung itu segera merampas roti dan menginjaknya dengan memutar-mutar ujung sepatunya hingga roti itu hancur menjadi bubur, menyatu dengan tanah. Si pengemis menangis. Burung itu pun demikian. Keduanya dalam derita yang sama meski satu sama lain tak memahaminya. Sebentar kemudian, bentakan lelaki jangkung mengharuskan si pengemis benar-benar pergi, tertatih, memanggul karung, tubuhnya dijarum terik.
Burung itu berbunyi dengan sisa suara kecilnya sambil menggelepar-gelepar tak berdaya. Tanpa diduga, lelaki jangkung memungut tubuh si burung dengan genggaman yang agak erat. Burung itu tak bisa bergerak selain pasrah. Ia mengamati burung itu dari jarak dekat. Si burung semakin gemetar saat dekat dengan kedua mata lelaki itu yang lebar, dan di kedalaman mata itu, si burung melihat banyak pohon-pohon yang ditebang. Lelaki jangkung itu kemudian meleparkan burung yang digenggamnya ke udara. Ia mengira burung itu bisa terbang.
***
Selepas subuh, si burung tak menyangka dirinya masih hidup. Tubuhnya diliputi rasa sakit yang amat mendera. Ia berada di tengah tumpukan besi bahan bangunan yang teramat dingin karena semalam diricik embun. Dadanya sakit dan sesak. Kini, baginya pagi baru adalah derita baru.
Si lelaki jangkung dan sebagian temannya masih mendengkur di bawah tenda, sebagian yang lain menyiapkan makan pagi, ada yang menyiapkan alat-alat. Dua buah truk dengan suara sekarat datang penuh muatan material bangunan. Matahari perlahan muncul; piatu di balik kawat yang tegak mengakar ke dasar beton.
Sepagi itu sisa pohon di bagian barat bangunan kembali ditebang dengan suara mesin yang memekik. Si burung yang hanya bisa menggerakkan leher di pisau kenangannya sendiri; tak ada lagi kicau bersama, tak ada lagi kedamaian, dan keteduhan. Semua terampas keserakahan manusia.
“Andai pengemis itu datang lagi, hanya kepadanya aku bisa mengadu, sebab kedua matanya memancarkan keteduhan dan pembelaan kepada lingkungan, meski aku tak bisa memahami bahasanya.”
