Belum purna si burung bergumam, seorang pekerja yang lumayan punya empati mengambilnya dengan menangkupkan tangan, lalu ditaruh perlahan pada pokok kayu yang menghitam sisa dibakar. Di pokok kayu itu, karena desak keterpaksaan rasa lapar, ia pun bermutasi dari pemakan biji pada pemakan serangga; mematuk dua ekor semut yang mungkin juga masih lapar. Si burung tak bisa menahan duka. Ia seperti menangis.
“Manusia terlalu memikirkan dirinya sendiri,” ia berkata entah kepada siapa.

Burung itu hanya bisa sedikit menggeser tubuhnya perlahan begitu matahari meninggi. Mesin kayu semakin riuh. Sebagian orang sibuk menebang pohon, sedang sebagian yang lain sibuk melanjutkan pembangunan gedung. Si burung—dengan bahasanya sendiri dalam bentuk kicau sederhana—berteriak minta tolong. Tapi tak ada yang peduli. Terik matahari terus saja mendera tubuh si burung di datar pokok kayu yang sudah berupa setengah arang itu.
Ketika si burung masih menjerit sia-sia, tiba-tiba terdengar kegaduhan. Burung itu perlahan melirik asal kegaduhan itu terjadi. Ternyata pengemis yang kemarin datang lagi. Ia sedang diadang oleh dua orang petugas untuk segera pergi. Tapi tetap memaksa.
“Mohon izinkan saya sebentar mencari seekor burung yang kemarin datang mendekati saya dalam keadaan tak berdaya. Aku yakin ia pasti masih ada di sekitar sini,” pinta lelaki itu agak memelas. Si burung yang tidak mengerti maksudnya hanya bisa menggerakkan paruhnya yang sudah tak bisa bersuara. Ia ingin ikut pengemis itu dengan harapan bisa menemukan makanan yang mungkin si pengemis punya.
Kegaduhan terus terjadi, menarik perhatian banyak orang. Beberapa bogem mengenai tubuh si pengemis hingga ia membungkuk menahan rasa sakit. Tapi ia masih tak beranjak sedikit pun. Suaranya yang dalam terus minta izin untuk mencari burung yang dijumpainya kemarin. Kegaduhan itu baru berakhir ketika seorang pekerja yang tadi menaruh burung itu di pokok kayu mengambilnya kembali, lalu diberikannya kepada pengemis itu.
Si pengemis itu pun pulang dengan penuh kegembiraan. Sepanjang perjalanan, berkali-kali ia mengamati burung yang tergenggam tangan kanannya sambil sesekali ia kecup. Sedang burung itu merasa damai berada di genggaman si pengemis.
Setiba di gubuk kecilnya yang terbuat dari bambu yang sebagain besar dindingnya berlubang oleh kunyahan rayap, si pengemis memasukkan burung itu ke dalam sangkar kecil yang terbuat dari bambu. Semula burung itu terkejut dengan rumah barunya yang sempit. Tapi kemudian ia berusaha menerima apa yang terjadi. Ia merasa rumah sempit itu hanyalah satu-satunya pilihan yang lumayan ramah terhadap takdir hidupnya daripada hutan yang kehilangan pohon dan tanahnya dibangun gedung-gedung.
Pengemis itu memincuk senyum teduh, beriring sepasang mata yang berbinar begitu ia lihat burung itu lahap mematuk biji-biji kendung yang ia sediakan pada dasar botol bekas yang dipotong menyerupai lepek. Si burung serasa masuk surga, berharap hari-harinya akan bahagia hidup dengan pengemis itu dalam keadaan aman dan kenyang. Ia tidak tahu bahwa yang ada di dalam pikiran pengemis itu nanti—setelah burung itu sehat—adalah menjagalnya untuk mengganjal perutnya sendiri yang juga sering lapar. Si pengemis itu juga tidak tahu keesokan harinya, kelaparan yang terus mendera mengantarnya ke gerbang maut yang membuat kematiannya hanya ditemani seekor burung.
ilustrasi: pengemis, affandi.
