Sekali Lagi: Riset, Data, Fakta!

Contohnya, misalnya, akhir-akhir ini  banyak naskah disubmit dengan mengusung tema “manajemen pesantren” atau “penerapan teknologi digital di pesantren. Dalam tulisan disebutkan banyak pesantren yang telah melakukan modernisasi manajemen atau menerapkan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Meskipun penulisnya sudah menyebut “banyak”, namun tak satu pun sekadar disebut contoh nama pesantrennya —apalagi soal bagaimana proses transformasinya itu terjadi.

Begitu banyak naskah yang berniat mengangkat-angkat tema pesantren, namun sesungguhnya tidak bicara apa-apa tentang pesantren. Termasuk tema-tema yang lain, juga tidak banyak bicara. Misalnya, naskah yang mengangkat tema kekerasan fisik dan kekerasan seksual di pesantren. Banyak, namun tak satu pun yang menyajikan datanya, atau faktanya, atau analisa dari ahli, padahal data dan fakta-fakta itu tersedia, bahkan dari lembaga yang otoritatif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhirnya seringkali naskah-naskah itu terlihat lucu atau culun. Sebab apa? Banyak dari kita mengalami sindrom kemalasan untuk melakukan riset, termasuk riset kecil-kecilan. Di zaman dulu, riset memang harus turun ke lapangan atau berkutat di ruang apek perpustakaan. Namun, di era digital ini, riset bisa dilakukan dengan sangat mudah dan hampir semua yang kita butuhkan tersedia di Internet. Kita tinggal klik. Jika data belum tersedia, tetap ada fakta atau fenomena yang bisa kita peroleh dari sana.

Kita tinggal mengolah datanya, atau faktanya, atau fenomenanya, dan dari sana kita bisa menawarkan pandangan-pandangan baru, gagasan-gagasan baru, atau sudut pandang baru dengan bangunan argumen yang kokoh.

Itulah kelemahan kita selama ini: malas riset, miskin data dan fakta. Saatnya kita mulai membiasakan diri dengan riset, bergelut dengan data dan fakta atau fenomena lebih dulu, baru menuliskannya.

One Reply to “Sekali Lagi: Riset, Data, Fakta!”

Tinggalkan Balasan