Innalillahi wainnailaihi rajiun. Kami, jejaring duniasantri, turut berduka dan merasa kehilangan atas wafatnya KH Abdul Halim Mahfudz, Rabu (8/4/2026). Sedikit banyak, secara tidak langsung, Gus Iim, panggilan akrabnya, turut andil terhadap lahirnya situs web www.duniasantri.co ini, setidaknya melalui saya.
Gus Iim adalah orang pertama yang saya ketuk pintunya ketika saya mau mengawali karier di dunia jurnalistik. Sehingga, selama sekitar dua dekade, saya menekuni dunia jurnalistik, hingga akhirnya turut membidani lahirnya duniasantri.co yang tetap eksis hingga 7 tahun ini. Inilah hikmah kenapa ketika itu saya didorong-dorong menjadi wartawan. Harus terus ada santri yang berkhidmat di dunia jurnalistik.

Darah Biru Pesantren
Gus Iim merupakan kakak kandung dari KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), yang saat ini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dalam beberapa tahun terakhir, Gus Iim menjadi Pengasuh Pesantren Seblak, yang hanya beberapa jengkal jaraknya dari Pesantren Tebuireng.
Gus Iim, meskipun lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, penjelajahan dan pergaulannya begitu luas. Boleh dibilang, ia merupakan “seorang gus yang pikniknya begitu jauh”.
Gus Iim lahir pada 17 Juli 1954. Gus Iim terlahir sebahai pewaris darah biru pesantren. Ia adalah putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah. Dari garis keturunan ibunya, Gus Iim masih merupakan cicit dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari. Ibundanya, Nyai Abidah, adalah putri dari KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, yang tak lain adalah putri KH Hasyim Asy’ari.
Sementara, ayahnya, KH Mahfudz Anwar, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, pesantren legendaris yang didirikan KH Ma’shum Ali, mertua sekaligus gurunya.
Belajar ke Amerika
Pendidikan Gus Iim dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Parimono, Jombang (1966), lalu berlanjut ke Pendidikan Guru Agama (PGA) empat tahun dan kemudian Sekolah Persiapan (SP) IAIN Jombang pada 1971.
Setelah itu, Gus Iim melanjutkan ke Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selama kuliah, ia juga sembari mengajar Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa IAIN.
Perkenalannya dengan Negeri Paman Sam dimulai pada 1985. Saat itu Gus Iim terpilih mengikuti program Southeast Asian Student Leaders di Amerika Serikat atas undangan USIS. Tiga tahun kemudian, ia berangkat ke Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, untuk mempelajari Sejarah Asia Tenggara. Di kampus bergengsi itulah Gus Iim memperdalam pandangannya tentang dinamika sosial dan nilai etika lintas budaya. Kelak ketika kembali ke Tanah Air, Gus Iim dikenal sebagai seorang gus dengan pemikiran luas dan progresif.
Kembali ke Pondok
Saat masih kuliah di Amerika Serikat itu, Gus Iim juga sembari bekerja sebagai wartawan. Saat itu, ia menjadi koresponden Harian Surya di Amerika Serikat (AS). Saat itu, saya yang masih mahasiswa, sering membaca laporan-laporannya dari AS.
Ketika pulang ke Indonesia, Gus Iim meneruskan kariernya di dunia jurnalistik. Ia menjadi salah satu redaktur Harian Surya yang berkantor di Surabaya. Saat itulah, oleh dosen saya, Nizar Hasyim, saya diminta menemui Gus Iim. Pesannya cuma satu: agar saya bisa menjadi wartawan, seperti yang dijalani Gus Iim.
Sekitar tahun 1993, akhirnya untuk kali pertama saya bertemu Gus Iim. Tidak di kantor Surya, melainkan di Konsulat Jenderal AS di Surabaya. Rupanya, selain bekerja di Harian Surya, Gus Iim juga merangkap bekerja di Konsulat Jenderal AS tersebut. Setelah pertemuan itu, melalui jalan berliku, akhirnya saya memulai karier sebagai wartawan. Dan terputus komunikasi dengan Gus Iim.
Beberapa tahun kemudian, secara tak sengaja, saya bertemu Gus Iim di Bali. Saat itu saya sedang liputan kegiatan Coca Cola di Bali. Saya kaget melihat Gus Iim di sana. Berjas klimis dan berdasi. Saya kemudian terlibat obrolan hangat. Rupanya, Gus Iim sudah bekerja di perusahaan global tersebut, dengan posisi sebagai vice president corporate secretary.
Meskipun jarang berkomunikasi secara langsung, saya sering mengikuti jejak-jejak Gus Iim. Pada 2004 saya hijrah ke Jakarta. Saat itu beberapa kali berkomunikasi melalui telepon, dan janjian bertemu tapi tak pernah terwujud. Tapi saat itu saya tahu, Gus Iim pindah-pindah tempat kerja di lembaga-lembaga global, seperti The Asia Foundation, Burson-Marsteller, Coca-Cola Indonesia, dan Standard Chartered Bank. Bahkan pernah menjadi pengurus Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI).
Tapi sejak sekitar 2010, kami benar-benar putus komunikasi. Saya baru tahu bahwa Gus Iim sudah kembali ke Jombang tahun lalu. Pada akhir Agustus 2025, jejaring duniasantri menggelar acara ulang tahun ke-6 di Tebuireng. Saat itulah saya baru tahu bahwa Gus Iim ternyata kakaknya Gus Kikin. Maka, sembari mempersiapkan kegiatan jejaring duniasantri di Tebuireng, saya silaturahmi ke ndalem Gus Iim.
Begitu melihat saya muncul di rumahnya, betapa kaget dan bungahnya Gus Iim. Saya langsung dipeluk hangat. Kami kemudian bertukar cerita. Gus Iim terlihat sangat bungah ketika mendengar cerita-cerita tentang duniasantri. Bahkan siap membantu agar duniasantri kian berkembang.
“Santri saat ini memang wajib menguasai dunia informasi. Apalagi di zaman digital seperti ini,” kata Gus Iim kala itu.
Bahkan, di usianya yang sudah sepuh, Gus Iim kelihatan sangat bersemangat untuk membuat banyak tulisan buat duniasantri. Namun, karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan, Gus Iim baru membuat dua tulisan yang dikirimkan ke duniasantri. Sampai kemudian, Rabu hari ini, Nyai Atiqoh, sekretaris jejaring duniasantri, berkirim pesan pendek: Innalillahi wainnailaihi rajiun, Gus Iim wafat.
Selamat Jalan, Gus Iim, semoga Allah mengampuni segala khilaf, menerima semua amal, dan melapangkan jalan ke surga. Lahulfaatihah.
