Saya membayangkan suasana hari itu seperti istighasah kubro dan selawatan yang dilaksanakan umat Islam Indonesia. Puluhan ribu manusia datang dengan membawa bekal masing-masing berkumpul di majlis istighasah untuk berdoa dan membaca selawat, kemudian bertemu dan bersalaman dengan para ulama untuk ngalap berkah (mencari berkah). Suasananya persis seperti itu, tapi di sini yang hadir jemaah dari seluruh dunia.
Menjelang pukul 10.00, Paus Fransiskus keluar dari sisi kanan Lapangan Santo Petrus, kemudian belok kiri, lewat di depan pelataran tempat pagelaran Ki Ageng Ganjur.

Jalur yang dilewati Paus berada persis di depan Ganjur. Saat berada di depan rombongan Ki Ageng Ganjur, Paus melambaikan tangan. Selanjutnya, Paus terus berjalan mengelilingi pelataran Basilika Santro Petrus untuk menyapa umat dengan mengendarai mobil terbuka warna putih.
Setelah selesai mengelilingi seluruh sisi lapangan untuk menyapa umat, Paus Fransiskus bergerak menuju mimbar utama yang ada di zona paling atas. Pada saat itu Ki Ageng Ganjur dipersilakan memainkan satu lagu untuk mengiringi perjalanan Paus Fransiskus menuju mimbar utama. Setelah mendapat aba-aba dari petugas, Ganjur langsung memainkan lagu Heal The Word dari Michael Jackson.
Sampai di mimbar utama, prosesi audiensi umum dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus, dilanjutkan dengan sambutan singkat menyapa audiens yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Setelah itu, prosesi audiensi umum dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa petugas yang maju satu per satu secara bergantian. Masing-masing orang membaca sambutan dalam bahasa yang berbeda, ada bahasa Itali, Inggris, Arab, Latin, German, Prancis., China, dan sebagainya.
Sambutan sesi pertama melaporkan asal negara jemaah yang hadir serta ucapan salam kepada Paus. Sambutan dalam bahasa Arab menyatakan bahwa masyarakat Iraq, Iran, Yordan, Syiria, Mesir, dan umat Islam yang ada di Kawasan Arab menyampaikan salam pada Paus. Saat sambutan dalam bahasa Inggris disebutkan bahwa masyarakat dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam hadir dalam acara audiensi umum dan menyampaikan salam pada Paus. Setiap negara yang disebut selalu mendapat tepukan dari umat yang hadir dari negara tersebut. Dan ketika nama Indonesia disebut, aplaus pengunjung sangat meriah.
Sambutan sesi dua berisi pesan-pesan dari jemaah. Masing-masing petugas menyampaikan pesan sekitar dua sampai lima menit. Setiap petugas selesai menyampaikan pesan, Paus memberikan tanggapan singkat. Pesan yang dalam bahasa Arab disampaikan oleh seorang perempuan. Diawali dengan selawat dan salam pada Rasul, sapaan penghormatan kepada perempuan dan anak, doa kepada mereka yang sakit semoga mendapat rahmat. Selanjutnya pesan menyebutkan mengenai hubungan antara Islam dengan roh Kudus dan posisinya dalam ajaran Islam.
Setelah semua petugas menyampaikan pesan, Paus memberikan sambutan penutup. Dalam sambutannya, Paus menyinggung soal perang di Ukraina, tindakan Zionis Israel di Palestina, serta konflik yang terjadi di Myanmar. Paus berdoa semua konflik tersebut segera berakhir dan kedamaian bisa terwujud.
Setelah acara audiensi selesai, seluruh rombongan Ki Ageng Ganjur dipanggil naik ke atas mimbar untuk bersalaman dan berfoto dengan Paus Fransiskus. Ini sesuatu yang di luar dugaan, karena bagi Ganjur, mendapat kesempatan pentas di pelataran lapangan Santo Petrus sudah cukup membanggakan karena dapat menyampaikan pesan damai di hadapan publik internasional. Panggilan naik ke mimbar utama dan bertemu langsung dengan Paus Fransiskus merupakan berkah tersendiri yang dirasakan oleh Ki Ageng Ganjur.
