Kami tak bisa berkata apa-apa menerima semua ini. Perasaan haru, bangga, bahagia, dan suka cita bercampur jadi satu sehingga membuat kami kehabisan kata untuk mengungkapkannya (speechless). Saat rombongan Ki Ageng Ganjur sudah sampai di atas dan menunggu giliran untuk bersalaman, seorang petugas bicara kepada staf kedutaan agar Ganjur mempersiapkan satu lagu untuk dinyanyikan di hadapan Paus. Kami semua bingung harus nyanyi lagu apa, karena hanya membawa rebana, suling, dan angklung.
Karena bingung memilih lagu, secara spontan Zastrouw, ketua rombongan, berkata: “Kita selawatan saja, supaya bisa diiringi rebana, suling, dan angklung.”

Akhirnya semua sepakat membawakan Selawat Badr jika diminta menyanyi di hadapan Paus. Kami memang agak ragu ketika mau membawakan selawat, apakah diperkenankan. Tapi itu lagu yang muncul dalam benak kami, sehingga kami memilih untuk dibawakan di hadapan Paus.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tiba giliran Ki Ageng Ganjur bertemu dan bersalaman dengan Paus Fransiskus. Bapak Dubes memperkenalkan rombongan Ki Ageng Ganjur pada Paus. Beliau menjelaskan misi perdamaian dan persaudaraan yang dibawa oleh Ki Ageng Ganjur. Mendengarkan penjelasan Pak Dubes, Paus mengacungkan jempol sambil tersenyum. Karena diperkenalkan sebagai grup musik religi, kemudian Ganjur diminta menyanyikan lagu.
Sebelum menyanyi, kami minta izin untuk membawakan lagu selawat, dan Paus mengizinkan dan mempersilakan kami menyanyikan selawat. Setelah mendapat izin dari Paus, kemudian para personil menyanyikan Selawat Badr. Saat mendengar alunan selawat, Paus mengacungkan kedua jempol dan melambaikan tangan. Beliau terlihat tersenyum puas sambil mengangguk-anggukkan kepala mengikuti alunan selawat.
Menurut Zastrouw, meskipun pemilihan Selawat Badr tersebut disampaikan secara spontan, namun sebenarnya memiliki makna tersendiri. Pertama, Selawat Badr merupakan karya ulama Nusantara, KH Ali Mansyur dari Banyuwangi, sehingga alunan selawat tersebut mencerminkan budaya Islam Nusantara.
Kedua, karena selawat identik dengan budaya umat Islam, sehingga jika disenandungkan di Basilika akan terlihat dan terasakan nuansa perdamaian dan persaudaraan lintas iman.
Ketiga, pembacaan selawat bukan merupakan ritual formal agama, tetapi lebih merupakan ekspresi kultural atas spirit religiusitas cinta Nabi, sehingga dapat dilantunkan di forum mulia di mana saja.
Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, menyatakan bahwa alunan Gendhing Kebo Giro, lagu Heal the Word, dan Selawat Badr yang dibawakan Ki Ageng Ganjur merupakan peristiwa monumental dalam gerakan kebudayaan untuk membangun persaudaraan antarumat manusia dan perdamaian dunia.
Melalui event ini, dunia akan melihat bangsa Indonesia adalah bangsa yang moderat, toleran, dan bersaudara. “Peristiwa ini (alunan Kebo Giro dan Selawat Badr) membuktikan apa yang dinyatakan Paus Fransiskus tentang Pancasila sebagai perajut keberagaman bangsa adalah benar adanya,” demikian kata Dubes Trias Kuncahyono.
