“Tadi itu tak salah? Kau bilang selimut itu yang paling bagus dan mahal yang ada di tokomu ini. Kemarin kau menjual kepada pengunjung lain harganya dua ratus ribu. Sekarang kau jual kepada lelaki tua itu cuma dua belas ribu, dapat bonus lagi.”
“Benar. Memang harga selimut itu dua ratus ribu, dan aku menjual pada pelanggan kemarin dengan harga tidak kurang dan tidak pula lebih. Tetapi kemarin aku berdagang dengan manusia, dan malam ini baru saja aku berdagang dengan Allah.”

Pemilik toko kemudian berkata lagi lirik kepada temannya, “Demi Allah, sesungguhnya aku tak menginginkan uang dari lelaki tua itu sedikitpun. Hanya saja aku ingin menjaga harga dirinya agar dia seolah tidak sedang menerima sedekah dariku sehingga bisa membuatnya malu.”
Keduanya sejenak menghela napas sambil memerhatikan punggung lelaki tua yang perlahan menghilang ditelan malam yang basah.
“Demi Allah! Aku hanya ingin lelaki tua itu dan keluaganya merasakan kehangatan di saat malam datang membawa angin dan hujan. Sungguh aku sangat bahagia ketika selimut itu menjadikan malam mereka terasa nyaman dalam kehangatan.”
