“Dalam semua peran itu, satu benang merah tetap berkilau: jalan wasatiah, jalan tengah yang tidak netral, tetapi penuh makna— jalan yang mencari keseimbangan antara warisan dan penciptaan, antara iman dan kebebasan, antara transedensi dan sejarah.”
Sikap wasatiah Asrul Sani, menurut Jamal, tercermin dari jejaknya di Gelanggang Seniman Merdeka (1950) hingga perannya di Lesbumi (1962), yang menggarisbawahi kebudayaan sejati sebagai dialog abadi antara nurani dan sejarah.

Format Haul yang Unik
Sastrawan kenamaan Acep Zamzam Noor, yang turut tampil membaca puisi, menyoroti keunikan format acara Haul untuk sastrawan yang diprakarsai oleh Komunitas Semaan Puisi.
“Semaan Puisi dan Haul Sastrawan ini unik, dan belum ada di dunia. Biasanya Semaan dilakukan di pesantren dengan khataman Al-Quran, tapi ini beda, teman-teman menderas puisi-puisi penyair,” ujar Acep Zamzam Noor.
Selain Acep Zamzam Noor, panggung pembacaan puisi dimeriahkan oleh penyair senior seperti Taufiq Ismail, Sunu Wasono, A. Slamet Widodo, Peri Sandi Huizche, Devie Matahari dan Sanggar Matahari, Umam Dante, dan Sadulur Sadayana. Kehadiran mereka menegaskan komitmen komunitas sastra untuk terus merawat warisan pemikiran para pendahulu melalui suara dan kata.
