Sejauh ini, Gus Dur dikenal sebagai bapak pluralisme Indonesia, yang dalam hidupnya getol memperjuangkan nilai-nilai kebhinekaan, hak asasi manusia, dan kesetaraan hak warga negara. Maman Immanulhaq Faqieh, melalui karyanya tentang Fatwa dan Canda Gus Dur, menyebutkan bahwa di mata Gus Dur, pluralisme adalah sebuah pandangan yang menghargai dan mengakui adanya keragaman identitas, seperti suku, agama, budaya, ras, dll. Pluralisme bukanlah ide yang ingin menyamakan semua agama, karena setiap agama tentu memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing. Karena itu tidak seharusnya menjadi sumber konflik, melainkan sebagai sarana bagi manusia untuk memahami anugerah Tuhan agar tercipta toleransi dan harmoni di tengah kehidupan (2010:145).
Sebagai bangsa yang telah diikat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, tentu pluralisme ini harus dapat disadari bersama, sembari upaya untuk membangun kesadaran ini juga dilakukan melalui program-program pemerintah, termasuk melalui program senam moderasi beragama yang dinisiasi oleh instansi kementerian agama. Agar upaya dalam membangun kesadaran ini dapat dimaknai sebagai upaya memperkukuh soliditas dan solidaritas setiap komponen bangsa, serta keutuhan setiap jengkal wilayah tanah air yang amat luas ini.

Senam sebagai Wasilah.
Aksi “Senam Moderasi Beragama” yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama di beberapa daerah, mampu menampilkan senam tidak sekadar untuk sehat secara jasmani saja. Akan tetapi, juga menjadi wasilah dalam upaya menanamkan kesadaran kerukunan umat dalam beragama dan bernegara.
Pentingnya Senam Moderasi Beragama yang ditampilkan sebagai rangkaian kegiatan memperingati HAB Kemenag di sejumlah daerah ini dapat menjadi wasilah bersama dalam mengkampanyekan nilai-nilai moderasi beragama kepada masyarakat luas. Mengingat, keberagaman kita belum sepenuhnya tumbuh menjadi kekuatan besar sekaligus kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Namun masih menyisakan potensi yang besar sebagai pemicu konflik.
Apalagi aktivitas senam sudah menjadi bagian dari gaya hidup untuk sehat bagi masyarakat saat ini. Bahkan, meningkatnya minat masyarakat akan gaya hidup sehat, dapat dilihat dari event-event senam yang sering digelar di setiap acara tertentu oleh banyak komunitas gemar olah raga senam. Sadoso Sumosardjuno pernah menyebut dalam karyanya bahwa senam sebagai olahraga yang cukup trend saat ini menjadi salah satu jenis olah raga yang memiliki nuansa rekreatif, sehingga banyak digemari dan dinikmati sampai ke seluruh pelosok tanah air (2004:4).
Maka, dapat dibenarkan, apabila olah raga senam kini menjadi tren gaya hidup dalam pergaulan masyarakat. Sebatas perbandingan saja, jika beberapa tahun sebelumnya, senam lebih digemari oleh masyarakat yang berusia muda dan hanya kalangan tertentu, namun belakangan ini, bergeser dan banyak digemari dan dinikmati oleh banyak kalangan. Hal ini dapat dilihat banyaknya sanggar senam yang murah, bahkan hanya cukup berlokasi di balai desa atau kantor kelurahan saja. Bahkan senam saat ini lebih banyak digemari oleh ibu-ibu di banyak desa dan perkampungan.
Karena itulah, kegiatan Senam Moderasi Beragama yang ditampilkan sebagai rangkaian kegiatan memperingati HAB Kemenag di lingkungan Kementerian Agama di sejumlah daerah merupakan sebagai wasilah yang sangat strategis di tengah masyarakat yang sedang selain gemar juga sedang berada dalam trens gaya hidupnya. Maka senam moderasi ini akan dapat menjadi bagian dari media dalam upaya mengkampanyekan nilai-nilai moderasi beragama kepada masyarakat luas.
Hemat penulis, kampanye ini sangat diperlukan bagi kelangsungan bangsa. Karena kegiatan semacam ini dapat berkontribusi dalam upaya membangun semangat keagamaan dalam keberagaman bagi masyarakat Indonesia. Selain itu juga dapat menjadi lebih optimis dalam upaya menumbuhkan tatanan kehidupan dengan semangat toleransi, rukun, dan terikat dalam persatuan yang kuat. Setidaknya kehidupan harmoni, atas dasar komitmen kebangsaan, toleransi, dan anti kekerasan dapat terwujud.
