Banyak seniman terutama dari latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah meramaikan gelaran Malam Sastra Santri di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta, Jumat (10/7/2026) malam. Juga diisi Refleksi Sastra Santri dari tokoh Muhammadiyah dan NU.
Malam Sastra Santri digelar oleh jejaring duniasantri (JDS) sebagai bagian dari rangkaian Festival Dunia Santri 2026. Di Pesantren Minggir, pada Kamis (9/7/2026) dilaksanakan workshop penulisan kreatif. Lalu Jumat siang dilaksanakan Diskusi Buku Menggali Api Pancasila karya Ngatawi Al-Zastrouw. Diskusi buku terlaksana atas kerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Malam harinya digelar Malam Sastra Santri sebagai pamungkas. Sederet seniman dan sastrawan nasional hadir. Yang menarik, hampir semuanya berlatar belakang tradisi keislaman yang berbeda, dari NU dan Muhammadiyah atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Agus R Sarjono, Mustafa W Hasyim, Nisa Rengganis, dan Mutia Sukma, misalnya, para penyair berlatar belakang Muhammadiyah. Sedangkan, Jamal D. Rahman, Kedung Darma Romansha, Evi Idawati, dan Rekki Zakkia, adalah para seniman dan penyair dari lingkungan pesantren atau NU. Mereka bergiliran membaca puisi, musikalisasi puisi, dan memberikan refleksi sastra sastri. Terakhir, sebagai tuan rumah, Gus Muwafiq alias KH Ahmad Muwafiq menghibur para tamu dengan pembacaan puisi dan menyanyikan banyak genre lagu. Acara berlangsung meriah hingga larut malam.
Kedung Darma Romansha tampil pertama membacakan dua puisinya yang didedikasikan kepada KH Hamid Pasuruan dan Gus Dur. Laiknya ungkapan penghormatan seorang santri kepada kiainya.
Lalu ada Nisa, penyair yang aktifis HMI, staf Kementerian Kebudayaan, membacakan puisi bertema Palestina. Juga Mutia Sukma, dosen Universitas Aisyiah Yogyakarta, yang membacakan karyanya bertema kehidupan dapur seorang perempuan.
Penyair asal Bandung yang juga Pengurus Lembaga Seni Budaya Pengurus Pusat Muhamadiyah, Agus R Sarjono, tampil bersama sang istri, Cerly Chairani Lubis. Yang menarik, mantan redaktur Majalah Sastra Horison itu tak membacakan puisinya. Dengan memainkan gitar, bersama istri, ia menyanyikan dua puisi yang digubah menjadi lagu. “Sekarang saya tak baca puisi, tapi nyanyi saja,” ujar Agus R Sarjono.
Pada sesi yang lain, penyair Yogjakarta Rekki Zakkia membawakan dua puisi karyanya. Kemudian ada Evi Idawati, penyair dan pegiat film, membawakan puisi terbarunya. Kedua penyair tersebut berlatar belakang Nahdliyyin. Lalu penyair yang juga Ketua Panitia Festival Dunia Santri 2026, Beni Satria, membacakan satu puisinya yang didedikasikan buat almarhum Uki Bayu Sejati.
Sebelumnya, ada refleksi sastra sastri yang diberikan oleh Mustafa W Hasyim dan Jamal D Rahman. Mustafa, menguraikan sisi historis pergulatan Muhammadiyah sastra Indonesia modern. Sementara, Jamal membandingkan “negosiasi” Islam modernis dan Islam tradisionalis dalam sastra Indonesia modern. Di bagian akhir, Jamal menantang bagaimana dua jalur tersebut, Muhammadiyah dan Nahdliyyin, memberikan kontribusi yang lebih bermakna bagi sastra Indonesia di masa depan.
“Itulah tantangannya hari ini,” ujar Jamal D Rahman.
Sebelum penampilan Gus Muwafiq sebagai tuan rumah, Joni Ariadinata membacakan sebuah cerpen dengan gaya yang teatrikal. Menariknya, cerpen tentang drama di liang kubur yang menghibur itu ternyata belum diberi judul karena hasil improvisasi. Nama-nama tokoh dalam cerpen dicomot begitu saja dari mereka yang hadir, seperti Al-Zastrouw, Mahwiyanto, Gus Muwafiq, Rekki, dan sebagainya. Cerita horor penuh humor itu sering membuat penonton terbahak dan bertepuk tangan.
“Kita jadi teringat tahun sembilan puluhan, banyak kegiatan pembacaan puisi. Kita merindukan suasana seperti ini,” komentar Gus Muwafiq saat tampil sebagai penutup.
