Serbuk Kopi Hitam

Terpaksa Maryam pun turut, dengan kaki yang sudah lunglai. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru arah. Tak ada satu pun bangunan ditangkapnya, kecuali gubuk Mbah Parjan. Suasananya seram. Bulu kuduk wanita itu terasa terangkat. Pohon-pohon besar yang ada di sana menambah keangkeran tempat itu. Langkahnya sedikit ragu.

“Mas beneran kita masuk?” tanya wanita berbaju serba hitam itu, saat sudah di depan rumah Mbah Parjan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ya, beneran, ayo, masuk.”

Tiba-tiba pintu rumah sederhana itu terbuka sendiri. Sarman dan Maryam terkaget. Maryam menggaet erat lengan suaminya. Dia bergidik. Sempat menarik tangan Sarman supaya tidak masuk ke tempat mengerikan itu, ketika kaki suaminya mulai melangkah. Namun, Sarman meyakinkannya supaya tetap dengan niat mereka ke sana.

“Silakan masuk.” Suara berasal dari dalam gubuk itu tanpa ada seseorang yang terlihat oleh mata Sarma dan Maryam.

Sarman mengangguk pelan, lantas menuntun istrinya supaya turut. Pelan-pelan sepasang kekasih itu memasuki rumah Mbah Parjan. Suasana di dalam gelap. Ruangan tampak sempit, bergradasi hitam. Sepasang mata tampak di sana sedang menanti mereka. Tak terlalu jelas wajah orang itu. Yang jelas hanya suara tawa dari lelaki yang dipanggil Mbah Parjan itu. Lelaki yang sudah senja itu mempersilakan mereka berdua duduk lesehan.

“Ada apa ke sini?” tanya Mbah Parjan setelah Sarman dan Maryam duduk di depannya.

“Kami mau minta tolong, Mbah,” sahut Sarman.

“Kalian mau minta anak?” sergah lelaki berjenggot panjang itu.

“I-iya, Mbah. Bisa?” tanya Sarman lagi. Sedangkan Maryam hanya diam, ketakutan di samping suaminya.

“Baiklah, ini bawa. Lalu, minum sampai habis. Kalau sudah habis ke sini lagi. Nanti aku kasih lagi kopi yang sudah aku kasih mantra-mantraku,” jelasnya.

Senyum sempurna Sarman terbit. Ada sepercik harapan baginya untuk mendapatkan anak. Dia begitu merindukan bayi dari istrinya. Segala cara akan dia lalukan untuk itu. Termasuk ke dukun, yang sangat bertentangan dengan ajaran yang dianutnya sekarang. Mulanya dia sempat ragu, saat temannya merekomendasikan Mbah Parjan. Akan tetapi, nuraninya kalah dengan keinginannya yang begitu besar supaya istrinya hamil.

“Terima kasih, Mbah.” Sarman menerima bubuk kopi dalam plastik. Jika ditimbang, mungkin bubuk kopi hitam itu ada satu kilo lebih.

Tinggalkan Balasan