“Itu sudah ada mantranya. Kamu minum saja sehari tiga kali,” pesan Mbah Parjan.
“Baik, Mbah terima kasih. Kami izin pamit dulu, Mbah,” ucap Sarman setelah memberikan amplop berisi beberapa lembar uang kertas.

Mbah Parjan hanya tergelak-gelak dan mempersilakan mereka berdua untuk pulang.
***
“Mas, lihat ini berita di televisi! Cepat!” teriak Maryam dari ruang tengah kepada suaminya yang sedang duduk di luar rumah.
“Ada apa, Dik?” tanya Sarman seraya setengah lari mendekati istrinya.
“Itu lihat sendiri.”
Di layar televisi itu, Sarman melihat Mbah Parjan digerebek oleh beberapa polisi. Rumahnya diberi garis polisi. Lelaki tua itu tampak diborgol. Berita itu memuat dukun yang berusaha membunuh secara pelan klien-kliennya dengan cara menyuruh minum bubuk kopi hitam dari dukun itu. Ada beberapa laporan yang masuk ke polisi terkait hal ini, sehingga polisi turun tangan secara langsung. Tidak satu atau dua, tetapi banyak korban dari Mbah Parjan.
“Pantes saja. Akhir-akhir ini rasanya aneh kopinya.”
“Kalau begitu, buang saja, Dik, bubuk kopi hitam dari Mbah Parjan.”
“Iya, Mas.”
Tiba-tiba suara azan maghrib mulai menggema ke telinga setiap insan bernyawa. Sarman dan Maryam saling bertukar pandang. Tersirat sesuatu dalam manik mata keduanya.
“Mas coba kita kembali salat. Sudah lama kita meninggalkan Allah,” ajak Maryam. Azan itu telah mengetuk hatinya yang selama ini tertutup rapat.
“Baru saja aku mau ngomong gitu, Dik. Ya, sudah, ayo kita salat berjemaah di rumah. Aku wudhu dulu, ya.” Lelaki itu berlalu menyisakan istrinya, menuju kamar mandi. Diikuti oleh istrinya.
