Salah kaprah ini juga telah begitu dalam merasuki sistem pendidikan kita yang begitu dikotomis. Ada lembaga pendidikan agama, ada lembaga pendidikan umum. Dan bukan hanya pada sistem pendidikannya, salah kaprah ini juga telah begitu dalam merasuki alam bawah sadar masyarakat muslim kita. Anak-anak kita sejak dini dipaksa mendayung di antara dua karang, bersekolah di pendidikan agama sekaligus di pendidikan umum. Atau bersekolah di lembaga-lembaga pendidikan agama (termasuk pesantren) yang “ditempeli” dengan ilmu-ilmu umum —tapi keduanya tetap terpisah secara dikotomis.
Saya, misalnya, termasuk generasi yang lahir dari situasi alam bawah sadar orang tua yang seperti ini. Sejak dini, ditanamkan bahwa untuk memperoleh kebaikan di akhirat, dan itu berarti surga, maka saya harus mendalami ilmu agama. Tak ada pilihan kecuali harus masuk madrasah atau pesantren.

Memang tak ada yang salah dengan itu. Tapi bayangkanlah jika seluruh generasi muslim hanya berkerumun di bawah satu atap “ilmu agama” itu. Bayangkanlah jika seluruh generasi muslim hanya menjadi ahli tafsir, ahli hadis, ahli fikih, ahli faraid, ahli tasawuf, hafiz Quran. Bayangkanlah jika seluruh generasi muslim hanya menjadi kiai, ustaz atau guru ngaji, dai atau penceramah, atau pegawai kementerian agama.
Juga, bayangkanlah jika seluruh generasi muslim tidak ada yang menjadi dokter, akuntan, ahli keuangan, ahli matematika dan teknologi informasi, ahli kimia, ahli ilmu rancang bangun, dan ahli pertambangan, misalnya. Bahkan yang menjadi seniman atau komedian pun tak ada. Pendek kata, bayangkanlah jika seluruh generasi muslim tidak ada yang menjadi ahli kecuali ahli dalam ilmu agama. Jika kalimat terakhir ini yang terjadi, dan sepertinya hampir seperti itu, maka kita akan gagal mengemban amanat Tuhan sebagai khalifah (jangan dikacaukan dengan khilafahisme) di Bumi (khalifatullah fil ardh).
