“Berarti kami tidak salah. Kenapa sapinya jadi berubah wujud begini?” istri Kaban menimpali.
“Tapi dengan cara bagaimana kalian memilah-milah dan memilih-milih daging terbaik untuk kalian makan sendiri, itu sama artinya yang dibagikan kepada mereka yang berhak menerima hanyalah sisa-sisa. Remah-remah.”

Kaban dan istrinya tetap saling berpegangan tangan, tapi kini keduanya tertunduk lesu, tidak berani menatap sapi di depan matanya.
“Bayangkan, orang-orang yang fakir miskin itu, yang tak jauh dari rumah kalian, yang nyaris tak pernah memperoleh asupan bergizi karena tak pernah mampu membeli daging terbaik, yang berharap banyak di Hari Raya Kurban, hanya kebagian remah-remah. Ibaratnya, mereka hanya merebus atau membakar tulang yang di sana-sini ketempelan daging. Atau mereka hanya kebagian mengunyah daging liat yang mengandung banyak lemak. Fakir miskin yang uzur tak akan berani mengunyah daging-daging liat itu. Jika untuk dinikmati sendiri, buat apa kalian berkurban?”
Kaban dan istrinya terdiam. Tubuh mereka mulai gemetar. Sementara sapinya diam menunggu, terlihat seperti patung.
“Ayo, kendarai hewan kurbanmu,” perintah malaikat memecah kesunyian.
“Dengan kaki-kaki seringkih itu, tanpa mata dan tanpa kepala, bisakah sapi ini mengantar kami ke surga?” tanya Kaban menunjuk sapinya dengan tangan gemetar.
***
Selalu, mimpi Kaban berakhir sampai di situ. Pertanyaan yang sama selalu menjadi penutup mimpinya. Padahal, yang dia inginkan adalah jawaban malaikat atas pertanyaannya itu. Kaban butuh kepastian, agar mimpi itu tidak terus menerornya.
“Aku jadi ketakutan setiap mau tidur seperti ini. Takut mimpi seperti itu datang lagi, dan tanpa jawaban,” kata Kaban kepada istrinya yang berbaring di sampingnya.
