“Iya, aku saksinya. Saat membeli, aku juga ikut,” istrinya menimpali.
“Sapi kami mirip-mirip seperti itu,” kata Kaban sambil menunjuk sapi lain yang dikendarai keluarga lain yang sedang melintas tak jauh darinya. “Tidak seperti ini!”

Kaban terlihat begitu bergidik melihat sapi di depan matanya. Sapi itu terlihat begitu kurus, nyaris tak berdaging. Yang tersisa hanya tulang belulang yang terbungkus kulit yang kering dan kusam. Bahkan, ekornya pun terlihat sangat keriput dan tak berambut. Yang paling membuat Kaban keheranan, sapinya tidak punya kepala! Wujud sapi itu hanya terdiri dari badan yang kurus dan kaki-kaki yang ringkih.
“Jika benar ini sapi kami, lalu ke mana kepalanya?” tanya istri Kaban.
“Kepalanya sudah kalian bakar sendiri. Lalu kalian santap bersama teman-teman pilihan kalian sendiri. Kalian merasa itulah pesta kalian.”
Kaban dan istrinya saling berpandangan, kemudian berpegangan tangan.
“Tapi jika benar ini sapi kami, kenapa menjadi kurus kering begini? Kenapa hanya tersisa tulang-tulangnya? Kenapa kakinya begini kecil, ringkih, nyaris tak berdaging?” tanya Kaban.
“Mungkin kalian lupa, daging-daging terbaik dari sapi itu telah kalian pilah-pilah sendiri, kemudian kalian masak sendiri. Ada yang kalian bikin rendang. Ada yang kalian bikin dendeng. Ada yang kalian bikin sup. Ada yang coba-coba kalian bikin steak. Entah kalian bikin apalagi. Kemudian, semuanya kalian makan sendiri. Kalian nikmati sendiri. Sampai perut kalian kembung.”
“Tapi menurut ahli fikih kami, kami boleh mengambil sepertiga dari daging hewan kurban kami untuk kami makan sendiri,” kata Kaban.
“Memang boleh. Tapi tidak harus, bukan?”
