Maka, gender dapat dipahami sebagai pelabelan yang dibentuk berdasarkan klasifikasi sosial. Ia ada karena kesepakatan masyarakat yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan. Namun, yang menjadi permasalahan adalah ketika gender kemudian memberikan posisi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Padahal, sifat kuat dan lemah tidak bisa ditetapkan di satu pihak. Ia bukan kodrat yang mesti dimiliki satu-satunya oleh manusia. Laki-laki boleh lembut, perempuan boleh berani. Antara maskulin dan feminim tidak membatasi jenis kelamin.
Bagaimana Streotipe Bermula

Bermula dari gender yang disalahfungsikan sehingga berakibat pada posisi perempuan yang dipojokkan. Ia seakan tidak memiliki kuasa yang sama seperti yang laki-laki dapatkan. Anggapan bahwa perempuan hanya bisa bekerja di bagian domestik sementara laki-laki boleh masuk ke dalam politik. Hal ini menyimpang dari hakikat pengertian gender, yang pada mulanya gender sebagai sifat (pembeda) yang dikonstruk oleh masyarakat berubah orientasi terhadap pengambilan hak-hak perempuan.
Beberapa bentuk ketimpangan tersebut, misalnya, perempuan selalu mendapatkan streotipe buruk dari masyarakat di dalam berbagai kasus. Streotipe mengacu pada kecenderungan persepsi yang tidak dapat diubah pada suatu individu atau kelompok. Streotipe buruk tentang perempuan, misalnya. Perempuan yang merokok seringkali dianggap perempuan yang tidak benar. Perempuan yang keluar malam dicap sebagai perempuan murahan dan semacamnya.
Dari sini dapat terlihat bahwa pelabelan buruk terhadap perempuan dimulai dengan penyampaian informasi melalui komunikasi dari individu kepada individu yang lain. Informasi ini kemudian mengakar menjadi kebudayaan yang tidak bisa dihapuskan dalam anggapan sosial. Maka, peran komunikasi dalam kehidupan sangat berpengaruh. Bahkan, baik buruknya masa depan ditentukan komunikasi yang dilakukan pada hari ini. Karena menjadi kebutuhan pokok keberlangsungan hidup manusia, maka komunikasi adalah kunci peradaban di bumi.
Komunikasi Interpersonal
Secara umum, komunikasi dimaknai sebagai media penyampai informasi manusia kepada manusia yang lain. Bahasa, ekspresi, ataupun tanda-tanda yang lain dijadikan simbol oleh manusia dalam menafsirkan sesuatu atau hendak menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Segala sesuatu yang mengandung informasi itu adalah proses komunikasi, ada penyampai dan pendengar. Penyampai informasi disebut sebagai komunikator sementara pendengar sebagai komunikan.

Mantaap☕