SUAKA DI DEKAT NERAKA

Sepuntung rokok telah tuntas kusirap
bayang senyum menyekat terus menghimpit badan yang susut
oleh prakiraan rukukmu  entah jatuh di mana
aku mohon relakan pantaimu dipukul gelombang
agar apa yang kuutarakan bisa kau telaah dengan tenan
jangan sampai sediakan sajian bencana sehabis memandangi
robekan surat, ia menunggu rampung oleh bisikan telingamu
yang membuat segala persoalan mudah dibuang

Radeena, besok bila kau buka jendela dan melihat
siapa yang berkencan mesra di taman, itu prototype cinta kita
yang sebenarnya subur di telaga, beberapa kali ia mengalami mati
kemudian berharap bangkit kala kakimu berjalan menuju taman
sayang kau cenderung menginjak hati dan mengigau dalam kehidupan
yang selalu menutur sunyi

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apakah salah menuang obat untuk mencicipi ramalan yang lebih komplit
labirin yang kita hampar bersama janji mulia tidakkah cukup membahagiakanmu
untuk sebulan ini, aku tak pernah bercanda apalagi menyiutkan marga yang pernah
kau buang. cinta itu berharga, menurut nenekku
semestinya betapa pun pedih luka tak sepantasnya bibir berhenti bersyair
bagi penyair, itu penutup duka paling mutakhir

Radeena, sebelum gelas nasib dipecahkan di malam pertama
dan sebelum dahan-dahan berkemas menunggu ajalnya tiba
mungkin engkau ingin mengatakan sesuatu dengan pagar terbuka
kalau tidak, beri aku sedikit waktu mencelupkan rindu
dan hanya berbuka semata denganmu
jika masih enggan, ikhlaskan fotoku beriring deretan mantanmu!

bila pilihanmu yang terakhir, aku akan mengeluh pada akar; akar tunggal,
pada serabut, pada akar gantung , akar pelekat atau pun akar napas
aku pupuk yang terbuang setelah kau pasang benih kehidupan

Madura, 6 November 2021.

Tinggalkan Balasan