SUNGAI MUNTAHA
Pada batas langit, munajatku merangkak
Kunaiki sampan menuju rumahmu
Sembari menembangkan selawat.
Sungai-sungai mengalir dari biru mataku
Menuju muara penghabisan.

Jemariku terus mendayung
Mencari arah tujuan, nyaris hilang.
Hujan turun deras dari awan wajahku
Yang abu, dosa-dosa menggumpal
Disambar petir waktu
Bibirku hanya menggigil
Berkecipak memukuli zikir
Dari dinding-dinding udara
Kulabuhkan perahu kecilku
Pada dermaga bait-bait burdah
Sementara ikan-ikan kegirangan
Dalam lautan hati
Berduyun menuju muara muntaha.
“Mawlaya sholli wasallim daiman abada,
ala habibibika khoiril kholqi kullihimi.”
//Ruang Tamu, 18 Juni 2026.
SIMPANG LIMA
Di simpang lima jarimu
Lima ketukan ketuk kalbu
Dengan senandung agung
Pada lesung tubuh yang murung
Pada pijar fajarmu
Kutuang dua cangkir
Dari desir hati yang fakir
Di perempatan mata angin
Kunyanyikan lagu untukmu
Dengan dawai yang layu
Menatap rona pipimu
Dengan mata nanap
Di bawah kulitmu yang biru
Bibirku mengasah haru
Halaman suci yang basah
Dengan madah
Malang, 25-29 Juli 2025.
DARI SYI’AB ABU THALIB KE TANAH YATSRIB
I
Di celah Syi’ab Abu Thalib,
Tubuh-tubuh unta kurus kering
—Sekering iman kafir Quraisy
Yang tengah memboikot
Bani Hasyim dan Bani Muthallib—
Mulut-mulut gemetaran
Mengucap zikir
Sambil membasuh khawatir
Dengan doa-doa
Dibasahinya setetes demi setetes
Di depan tenda
Hamparan padang pasir
Menyisir hingga tubir harapan
Hingga baiat aqobah bergema
Dari celah perbukitan Mina.
II
Mata malam mengepung rumah Nabi
Pijak kaki mengelilingi dinding-dinding bata merah
Dari hasil syawir Darun Nadwah
Mereka merangkak
Mencari sang utusan
Ali, bertilam keteguhan
Bertaut hati pada ilahi Rabbi
Membujur tubuh di atas serabut kurma
Sementara Baginda melaju kaki keluar rumah,
Dan merapalkan firman;
“Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding)
dan di belakang mereka juga sekat,
dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”[1]
Tangan menggenggam tauhid
Berisi butir-butir akidah
Ditiupkannya kalam Tuhan
Lalu ditaburkannya debu-debu kekufuran
Pada pandangan yang lalai
III
Tiga hari lama berselang
Baginda berdiam di Gua Tsur,
Disertai sobat setia
Lalu berhijrah ke Kota Yatsrib
Kaum Muhajirin menyusul
Bergerombol berduyun-duyun
Menemu sang Nabi
Yang tiba di tanah Quba.
[1] Arti QS. Yasin ayat 9
Sumber ilustrasi: x.com, @sarirotijogja.
