Surat dari Perjalanan Pulang

Rencana saya untuk pulang ke Yogyakarta sesungguhnya sudah lama dicanangkan—dirawat dalam niat, disimpan dalam kepala, dan dimatangkan dalam jadwal. Namun sebagai pengguna angkutan umum—bus atau kereta api—keputusan yang tampak final itu kerap berbuah kegamangan justru menjelang hari keberangkatan. Ada semacam getar halus dalam pikiran. Bukan karena jarak atau waktu tempuh, melainkan kesadaran bahwa pulang ke kampung tidak pernah sesederhana memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain.

Yang ikut pulang bukan hanya raga, melainkan juga mental, ingatan, dan kesiapan batin untuk berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan lama yang entah mengapa selalu terasa baru: tentang pekerjaan, status, capaian hidup, rumah, kendaraan, dan angka-angka keberhasilan yang seolah menjadi ukuran sah diterima-tidaknya seseorang di hadapan kerabat dan sejawat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan-pertanyaan itu—yang bagi sebagian orang mungkin remeh dan tak perlu dijawab—bagi saya justru sering menjelma beban tak kasatmata. Ia tidak datang dengan suara, tapi menggerogoti selera, menimbulkan keengganan untuk berjumpa, bahkan diam-diam menumbuhkan hasrat untuk menunda pulang. Dari kegamangan itulah saya mulai mengamini sebuah kalimat sederhana, yang gema maknanya saya temukan baik dalam teks suci maupun petuah para bijak: bahwa pulang yang sesungguhnya adalah pulang ke dalam diri sendiri.

Dalam tasawuf Islam, pulang semacam ini dikenal sebagai ruju‘ilaan-nafs —kembali menengok diri sebelum melangkah lebih jauh ke hadirat Tuhan. Para sufi mengingatkan, manusia sering tersesat bukan karena jauh dari rumah, melainkan karena terlalu lama meninggalkan batinnya sendiri.

Dunia dengan segala ukurannya—harta, jabatan, pengakuan—kerap menjadi hijab yang menutupi kejernihan hati. Maka pulang, dalam pengertian tasawuf, bukan sekadar kembali ke titik geografis asal, melainkan perjalanan sunyi menuju kesadaran: membersihkan niat, menenangkan nafsu, dan berdamai dengan keterbatasan diri. Di titik ini, pertanyaan orang lain perlahan kehilangan daya cengkeramnya, sebab ukuran hidup tak lagi diletakkan di luar diri.

Dalam kebatinan Jawa, gagasan itu menemukan padanannya dalam lakumulih marang jati diri. Pulang bukan soal alamat, melainkan soal eling lan waspada —ingat kepada asal-usul dan sadar akan posisi diri di semesta. Orang Jawa percaya, kegaduhan batin muncul ketika manusia terlalu sibuk kasepuhan, mengejar pengakuan luar, hingga lupa menata ruang dalam. Maka jalan pulang adalah jalan menepi: meneng, ngendap, lalu manembah. Dalam keheningan itulah seseorang belajar narima —bukan sebagai sikap pasrah yang lemah, melainkan sebagai kebijaksanaan menerima diri apa adanya, tanpa perlu memamerkan pencapaian.

Masalahnya kemudian menjadi sangat personal: siapa yang mampu mengajak pikiran pulang dan berdiam kokoh di pojok keheningan, ketika dunia justru mengajarkan sebaliknya—untuk terus bising, membandingkan, dan menilai? Pertanyaan ini, bagi saya, tidak menuntut jawaban segera. Ia lebih menyerupai zikir yang diulang tanpa target, atau semedi yang belum selesai. Barangkali pulang ke Yogyakarta hanyalah pemicu; sementara pulang yang sesungguhnya adalah latihan seumur hidup: mengajak pikiran berhenti berkelana, dan mengizinkan batin duduk tenang, sendirian, tanpa perlu pembelaan apa pun.

***

Saya menyukai perjalanan dengan angkutan umum. Bus atau kereta api memberi saya waktu yang jujur untuk berdiam. Sepanjang jalan—baik ketika pulang maupun kembali—saya biasa menenggelamkan diri dalam buku-buku cerita, novel, atau cerita silat. Membaca di kendaraan umum bagi saya seperti ritual kecil: membiarkan kata-kata berjalan sejajar dengan roda, membiarkan pikiran menempuh jarak yang kadang lebih jauh daripada tujuan. Saya membayangkan bentangan sawah yang dahulu hijau dan lapang, menghampar tanpa sekat, dengan gundukan-gundukan kecil di sepanjang jalan yang mungkin pernah menjadi bukit sederhana, tempat anak-anak bermain dan burung-burung bertengger tanpa rasa takut.

Namun imajinasi itu perlahan bertabrakan dengan kenyataan yang melintas di luar jendela: hutan-hutan yang digunduli atas nama kepentingan umum, sawah-sawah yang satu per satu berubah menjadi deretan rumah, ruko, dan jalan berlapis aspal. Apa yang dulu terbentang sebagai ruang hidup bersama, kini menyempit menjadi petak-petak kepemilikan. Dalam perjalanan itu, saya merasa bukan hanya jarak yang ditempuh, tetapi juga perubahan yang tak dapat ditolak. Bacaan di tangan saya menjadi semacam pelarian yang sunyi—cara sederhana untuk menyelamatkan ingatan, agar masa silam tidak sepenuhnya hilang ditelan kemajuan yang tergesa.

Akhirnya, tanggal 22 Desember 2025, kabar itu datang: bus penuh semua. Kata penuh terdengar sederhana, tapi cukup membuat dada sesak. Saya panik sebentar, lalu keesokan paginya, 23 Desember 2025 pukul 10.00, saya memilih pasrah. Tahun ini tidak pulang, pikir saya. Keputusan itu saya terima seperti menerima hujan yang turun tiba-tiba—tanpa payung, tanpa keluhan. Namun pasrah rupanya tidak selalu berarti berhenti berharap. Setelah zuhur, sekadar iseng, saya menghubungi agen bus Pandawa 87 di Cipinang. Dua kursi sempat tersedia, lalu hilang tepat ketika hendak ditransfer untuk pembelian tiket. Beberapa menit kemudian, telepon berdering: ada penumpang yang batal berangkat. Kursi itu menjadi milik saya. Saya terdiam. Peristiwa kecil ini mengajarkan bahwa pulang sering dituntun oleh ketidakterdugaan.

Dua hari setelah benar-benar tiba di Yogyakarta, saya mengabari sahabat lama: Kiai Khairul Umam. Gus Rully, begitu teman-teman memanggilnya—iya, meski latar belakangnya Muhammadiyah. Di situlah keindahan persahabatan: ia tidak sibuk mengurusi label. Begitu tahu saya berada di Yogyakarta, ia mengajak saya ke rutinan Jagad Suwung pada tanggal 26 Desember di kediaman Cak Arif (Cakil). Ajakan itu datang tanpa basa-basi, seolah kepulangan saya belum lengkap jika tidak singgah di lingkaran orang-orang baik itu.

Tema pertemuan Jagad Suwung malam itu provokatif sekaligus jenaka: “Seberat Apa pun Masalahmu, Itu Bukan Masalahku.” Sebuah kalimat yang sekilas terdengar dingin, namun justru membuka ruang perenungan yang sangat dalam bagi saya. Di sana, kami diajak melihat bahwa kita sering kali adalah bagian dari masalah itu sendiri. Bahkan, masalah adalah bagian dari masalah—ia berlapis, berulang, dan tak pernah benar-benar selesai.

Terkadang, masalah dihadirkan bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Seperti kata Rumi, luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam diri. Cahaya itu tidak datang tanpa robekan, tidak hadir tanpa rasa perih.

Ada pula kalimat yang terus terngiang dalam lingkaran Jagad Suwung itu: “Ketika Tuhan ingin menarikmu kepada-Nya, Dia menempatkan kesedihan di hatimu.” Hidup memukul kita bukan untuk menjatuhkan, melainkan seperti biji yang harus hancur agar bisa tumbuh. Dan ketika seseorang merasa kehilangan segalanya, di situlah Tuhan perlahan menjadi segalanya.

Masalah, pada akhirnya, tidak dihadirkan karena Tuhan membenci, tetapi justru karena Dia terlalu mencintai untuk membiarkan manusia berjalan terlalu jauh dari-Nya. Tuhan selalu berpihak pada setiap kejadian, dan selamanya manusia akan berada dalam lingkaran masalah. Yang membedakan hanyalah dengan siapa kita berjalan dan duduk.

***

Selama di Yogyakarta, saya juga mengunjungi guru saya, cerpenis Joni Ariadinata, serta penyair Komang Ira di rumah makan miliknya, Dapur Cening. Bersama Beyong, suaminya, Komang Ira mengelola tempat itu dengan menu-menu khas Bali, di antaranya ayam dan sate betutu. Dapur Cening bukan sekadar rumah makan; ia menjadi ruang perjumpaan. Di sana saya bertemu sahabat lama, penyair Mira MM Astra. Ada jenis persahabatan yang tidak memerlukan banyak kata—cukup duduk bersama, secangkir minuman hangat, dan tawa pendek yang tidak perlu dijelaskan. Di tempat yang sama, saya bertemu Indrian Koto—penyair yang terlihat menakutkan tapi kocak dan hangat—pemilik Jual Buku Sastra (JBS).

Ruangan JBS bukan hanya dipenuhi buku-buku yang dijual daring, tapi juga memiliki lini penerbitan. JBS yang beralamat di Desa Keloran, jauh dari hiruk-pikuk kota, seperti sengaja disembunyikan agar hanya mereka yang benar-benar ingin singgah yang akan menemukannya. Bangunannya berupa rumah panggung dari kayu, sederhana dan bersahaja. Di kanan-kirinya terbentang sawah. Hijau. Tenang. Angin berjalan perlahan masuk ke sela jendela, membawa kesenyapan yang jarang ditemui di toko buku kota. Sastra di sana tidak terkurung rak; ia bernapas bersama angin desa. Membaca di sana bukan sekadar aktivitas, melainkan laku—sebuah cara menunda dunia agar hati bisa mendengar dirinya sendiri.

Di JBS juga kerap menjadi tempat berlangsungnya peristiwa-peristiwa kecil yang diam-diam penting. Seperti malam tahun baru, ketika diadakan baca puisi bersama Mira MM Astra, Saut Situmorang, dan Mahfud Ikhwan. Saya hadir sebagai tamu, dan membaca dua buah puisi.

Yogyakarta, di momen-momen seperti itulah saya merasa pulang menemukan maknanya yang lain. Pulang tidak selalu berarti sampai di tanahmu, tempat kau melahirkan banyak sastrawan. Kadang pulang adalah duduk tenang di antara kata, sahabat, dan keheningan; berada di lingkaran kecil orang-orang yang tidak sibuk menilai capaian hidup, melainkan berbagi kegelisahan yang sama.

Jika sebelumnya saya bertanya siapa yang mampu mengajak pikiran pulang, jawabannya hadir dalam perjalanan dan ruang-ruang sunyi seperti Jagad Suwung, Dapur Cening, dan rumah kayu JBS. Tempat-tempat itu mengajarkan bahwa pulang adalah proses, bukan tujuan. Dan saya, hingga kini, masih belajar menempuhnya. Pada akhirnya, mungkin memang tidak semua perjumpaan ditakdirkan selesai dalam bentuk jawaban. Ada yang cukup tinggal sebagai getar, sebagai sisa, sebagai sesuatu yang tidak perlu dituntaskan. Seperti perjalanan pulang ini—ia tidak menutup kegamangan, tetapi mengajarkan cara duduk bersamanya. Saya belajar bahwa pulang tidak selalu berarti tiba, melainkan memahami bahwa kehilangan, penantian, dan ketidakterwujudan pun adalah bagian dari jalan.

Karena itu, Yogyakarta, izinkan saya menutup surat ini dengan kutipan puisi dari seorang penyair legendaris kelahiran Pacitan namun tinggal dan meninggal di jantungmu, Iman Budhi Santosa: “Sebuah Pertemuan”:

Akhirnya kita sama-sama tahu / Cuaca dingin yang menebar angin kali ini / Adalah rindu-rindu awan kelabu: / Sebelum gerimis datang, terucaplah doa / Tentang pertemuan hujan yang tak sempat terwujud.

Yogyakarta-Jakarta, PP, Desember 2025, Januari 2026.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan