Dan di situ, Pak Teguh, di antara nisan-nisan yang bisu, di bawah langit senja yang mulai muram, saya merasa air mata ikut menetes. Bukan hanya air mata saya, tapi air mata sebuah bangsa yang tak pernah berhenti berharap.
Dan di situ, Pak Teguh, di antara nisan-nisan yang bisu, di bawah langit senja yang mulai muram, saya merasa air mata ikut menetes. Bukan hanya air mata saya, tapi air mata sebuah bangsa yang tak pernah berhenti berharap.
Anda harus masuk untuk berkomentar.
Jumat (16/10/2026) besok, jejaring duniasantri (JDS) akan menggelar Temu Sa...
SILSILAH MATA Selang beberapa lama setelah matamu mengajakku berdiskusi aku...
Perpaduan gema hadrah, lantunan ayat suci Al-Qur'an, hingga adu ketangkasan...
Di dalam kehidupan pondok pesantren, kiriman saat dompet kosong dan lemari...
Jumat (16/10/2026) besok, jejaring duniasantri (JDS) akan menggelar Temu Sa...
“Indonesia, lu negara apa kuburan?” Adalah negara yang pejabatnya mengubur warganya sendiri. RIP buat Affan Kurniawan,,,