Surat Rindu untuk Ayah

Ibuku berulang kali bilang kepadaku, kalau ayah sedang bertugas di Rumah Sakit yang jauh sekali. Dan ayah tidak bisa menolak, karena ayah adalah seorang abdi negara yang harus selalu siap sedia, kapan saja, ditempatkan di mana saja. Ayah harus segera berangkat demi menjalankan tugas yang diberikan negara.

Aku yang masih kecil sering bertanya kepada ibu, “Kapan ayah pulang, Bu?”, “Apakah ayah tidak kangen kepadaku?”, “Ayah mungkin tidak sayang lagi denganku ya, Bu? Karena tidak pulang-pulang?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ibu lalu menjawab dengan jawaban yang sama, “Ayah akan segera pulang, ayah pasti kangen dengan kamu, Nak, dan ayah selalu meyayangimu.”

Aku yang masih kecil mencerca ibu lagi, “Jangan-jangan ayah di kota sana juga punya anak lain yang sama sepertiku ya, Bu, sehingga tidak mau pulang kembali ke rumah ini?” Ibu menutup mulutku dengan jemari telunjuknya, kemudian terlihat bulir air menetes dari mata ibuku.

Ayah sangat menyayangiku. Ayah memang sering pergi karena pekerjaannya sebagai seorang perawat di sebuah Rumah Sakit. Seringkali pergi beberapa hari, namun kepergian sekarang terasa sangat lama. Aku masih ingat, ketika ayah pergi aku masih duduk di TK A, dan sekarang sudah di TK B.

Terakhir yang aku ingat, ketika ayahku berkemas, malam sebelum ayah ingin berangkat bertugas. Ayah bersama ibu di dalam kamar mengepak sebuah koper besar dengan tas-tas kecil yang mungkin berisi peralatan medis. Pagi sebelum berangkat, kami sarapan dulu. Aku melirik, ibu dan ayah tidak banyak bicara. Hanya sesekali saling pandang, kemudian mereka berdua lama-lama menatapku lekat. Aku tidak peduli. Aku habiskan saja sarapan pagiku.

Kemudian, ayahku menyodoriku gelas kopi miliknya, sebelum sempat ibuku melarangnya. “Ini, Nak, sisa kopi ayah. Diminum sedikit saja, biar nanti kuat melek seperti ayah.. he-he- he.”

Ibu hanya diam, tersenyum sebentar kemudian matanya sembab. Ayahku yang melihatnya, segera mencium pipi ibuku dan pipiku, tanda segera berangkat. Tidak seperti biasanya, ibu menggendongku mengantar ayah sampai ke pagar rumah. Biasanya cukup di depan pintu rumah. Kali ini, ibu menggendongku sampai motor matik yang dikendarai ayah sudah tidak terlihat lagi.

Setelah masuk ke dalam rumah, berbagai pertanyaan aku lontarkan kepada ibu. “Ayah pergi ke kota mana, bu?” Ibu diam, sambil memandangi gelas kopi sisa ayah tadi. Aku pun meneruskan pertanyaanku, “Ke Surabaya?” Ibu menggeleng. “Ke Jakarta?” Ibu masih menggeleng. “Ke Bandung?” Ibu tetap menggeleng, lalu mencium dahi dan pipiku dengan sedikit keras. Terasa sedikit panas kulit ibu— oh… pantas disertai derai air mata.

Setelah ayahku pergi, saudara-saudara dari ibu dan ayahku sering berkunjung ke rumah. Mereka tiba-tiba terlihat semakin sayang padaku. Paklik-bulik, pakde-bude, juga kakung dan uti sering menginap beberapa hari di rumah. Tak lupa mereka memberiku banyak jajan, mainan, atau mengajak sekadar jalan-jalan mengelilingi kampung. Mereka sering sekali mengusap-usap kepalaku dan memelukku. Yang aku heran, ketika kami menonton televisi bersama-sama dan ada acara seputar berita Corona yang aku sendiri belum tahu apa itu, entah ibu atau lainnya segera mencari remote untuk memindah channel. “Cari Upin-Ipin saja ya, atau Spongebob, biar bisa tertawa.”

Dulu, masih sedikit remang-remang ingatanku. Aku sering berkunjung ke Rumah Sakit tempat ayah bekerja. Kadang ibu mengirimkan masakan untuk makan siang ayah. Atau ketika ayah dapat giliran tugas malam, sorenya aku berkunjung dengan ibu, sekitar 15 menitan aku diajak makan sore di kantin Rumah Sakit dengan ayah. Teman-teman ayah banyak yang mengenaliku, katanya ayahku baik, yang diceritakan kepada teman-temannya hanya aku saja, anaknya. Cerita kalau aku belajar sepeda yang belum bisa-bisa, jatuh ketika mengejar kucing, atau minta mainan mobil-mobilan.

Aahh… ayah memang senang bercerita. Hingga sering aku diledek oleh teman-teman ayah ketika bertemu, “Sudah dapat belum mainan mobil-mobilannya? Itu ayahmu sudah gajian.”

Aku terkejut mendengar kabar itu, segera aku menghampiri ayah dengan tatapan mengiba, berharap. Ayah hanya tersenyum mengiyakan, kemudian menatap temannya yang bilang tadi dengan gregetan. Entah apa itu artinya. Teman ayah sambil mesam-mesem cekikikan menatapku.

“Sudah, kalau ayah tidak membelikanmu, Om saja yang nanti akan membelikannya.” Kami pun tertawa. Ibu yang melihat juga tertawa sambil kemudian menggendongku pulang.

Hari ini pun aku juga bertanya kepada ibu. “Apakah ayah di sana juga merawat orang sakit seperti yang selama ini yang dilakukan?” Ibu mengangguk. “Wah, ayah hebat. Sering menolong orang yang sakit. Apalagi sekarang, ayahku sedang menolong orang sakit di kota, pasti orang-orang di sana merasa tertolong dengan kehadiran ayaku.

“Berarti ayah hebat ya, Bu? Sudah banyak orang yang ayah rawat hingga sembuh. Nanti, ke teman-teman aku akan menceritakannya.” Ibu melihatku bangga ketika aku berkata seperti itu. Mata ibu kembali berurai.

Sebetulnya aku sangat rindu kepada ayah. Aku rindu dengan dongeng-dongengannya. Rindu dengan candaan dan guyonannya. Rindu diajak berkeliling dengan sepeda motornya. Apalagi, ketika aku digendong belakang, di punggungnya. Terasa hangat sekali punggung ayahku. Bau keringatnya khas.

“Ayah, kapan pulang?”

Tapi, teringat kata ibu, bahwa tugas ayah sangat mulia. Merawat dan menolong orang sakit. Katanya, itu pekerjaan yang disukai Allah dan berpahala. Ayah harus menolong orang-orang yang sedang sakit, agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Jika teringat perkataan ibu tadi, aku jadi diam. Tapi, aku sangat rindu dengan ayah. “Yah… kapan pulang ke rumah?”

Sore itu, aku di depan rumah sambil bermain bola sendiri. Mbak Ida yang biasanya mengajariku di TPQ kemudian mampir dan singgah di rumahku. TPQ sudah lama libur. Katanya diliburkan karena Corona. Corona sudah melebihi Presiden, pikirku. Berhak menutup dan meliburkan sekolahku. “Huh!”

Tampak ibu bercakap-cakap sebentar dengan Mbak Ida di ruang tamu. Mbak Ida orangnya baik, alim, dan sering membantu ibu kalau di rumah ada hajat kendurenan kirim doa, yasinan atau tahlilan atau apa pun. Ibu sering minta bantuan Mbak Ida untuk memasak.

2 Replies to “Surat Rindu untuk Ayah”

Tinggalkan Balasan