Selang berapa lama Mbak Ida menemuiku dan menuntun tanganku untuk pergi ke musala tempat TPQ kami berada. Mbak Ida menatapku, “Eh, Mbak lupa siapa nama kamu?”
Aku menatapnya heran, “Zakik”!” jawabku dalam keheranan. Kenapa Mbak Ida tiba-tiba menanyakan hal itu.

“Kalau lengkapnya?”
“Ahmad Muzaki. Ayah yang memberikan nama itu, kata ibu.”
“Pinteeer. Ahmad artinya terpuji, zaki artinya cerdas. Jadi, harapan ayahmu agar kamu nanti bisa jadi orang yang terpuji dan pintar.”
“Siapa dulu dong yang memberi nama? Ayah…” jawabku dengan penuh kebanggaan.
“Zaki kangen ayah?”
“Wah, jangan ditanya, Mbak! Kuuaanguuueen banget.”
“Iya mbak ngerti. Tadi ibu kamu bilang, kalau ayah itu lupa bawa hape, jadi tidak bisa dihubungi. Terus, kalau mau kirim surat, tugasnya ayah berpindah-pindah.”
“Jadi, gimana dong Mbak, kalau Zaki ingin bilang sama ayah, kalau aku kangen dan minta ayah supaya cepat pulang.”
Tampak Mbak Ida terdiam sebentar. Lagi-lagi seperti ibu. Matanya sembab sambil terisak. “Zaki tenang saja! Zaki bisa kok berkirim surat ke ayah untuk menyampaikan pesan tadi.”
Mendengar hal itu aku pun tertawa senang. “Caranya, Mbak?” tidak sabar aku ingin mendengar saran dari Mbak Ida.
“Caranya dengan membaca surat. Zaki baca surat, kemudian Allah akan membawanya untuk disampaikan ke ayah Zaki.”
“Baca surat apa, Mbak?”
“Zaki baca Surat Yasin. Ya misalnya nanti tidak fasih pun tidak apa-apa. Ini Mbak Ida bawa yang ada tulisan latinnya. Zaki bisa baca, kan?”
“Wah, bisa Mbak. Zaki bisa baca kalau ada huruf latinnya.”
“Siipp…nanti Mbak temani.”
Mbak Ida menggandengku ke tempat wudhu dan membimbingku berwudlu. Tidak lupa Mbak Ida memakaikan sarung yang ternyata sudah disiapkan sedari tadi, lengkap dengan baju koko dan kopiahku. Kami memasuki teras dan masuk ke dalam musala yang terasa tenang. Suasana tampak lengang dan sepi. Karena TPQ diliburkan, musala jadi tidak ramai dengan pemandangan santri kecil yang biasanya datang mengaji.
Mbak Ida kemudian memberiku buku kecil, dimintanya aku mengikuti apa yang Mbak Ida ucapkan. Selesai membaca Al Fatihah beberapa kali, barulah kami membaca surat untuk ayahku, surat yang akan disampaikan Allah kepada ayahku. Surat Yasin.
Semenjak itu, aku rajin sekali baca Surat Yasin. Yang kata Mbak Ida merupakan surat sebagai bentuk rasa rinduku kepada ayah. Surat yang akan kubaca, akan dibawa angin milik Allah agar sampai ke telinga ayah, begitu kata Mbak Ida. Ibu yang mendengarku membaca Surat Yasin sering ikut-ikutan membaca juga di belakangku. Sesekali ibu sambil membaca mengusap pipinya yang telah tertetesi air mata. Ibu tentunya juga sama denganku, rindu sekali dengan ayah.
“Bu, ayo kita pergi ke tempat kerja ayah.”

Dahsyat, mantab, gaswat,,,
Masya Allah…jadi teringat ayah😓