SURGA BURUNG-BURUNG JIWA

“Sungguhpun ini Rumahku yang mula-mula”

Sekarang aku akan memasuki pekaranganmu
Jangan matikan lampumu barang sejenak
Agar jalanku menuju rumahmu tidak tersesat
Kubawa Cinta yang manusia tak akan pernah bisa ciptakan, begitupun Kerinduannya

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mekkah, 2023.

PADA SEBUAH PADANG

Pada sebuah padang, terik matahari menghunus ubun-ubunku. Cahaya lantas merasuk ke dalam aliran darah, menjelma zarah, mengalir ke jantung, terbawa ke berbagai penjuru tubuh hingga ke ujung-ujung kuku.

Dan membuka mataku melihat jutaan malaikat duduk di tebing-tebing langit untuk menyaksikan matamata yang memejam tapi terbuka. Matamata yang terjaga demi menanti Cahaya yang dipancarkan matahari; demi menyesap Cahaya yang disemburatkan senja; demi menikmati Cahaya yang dipancarkan rembulan. Kemudian aku potong siang dan malam itu lantas kupahatkan dalam prasasti sukma.

Di sini aku baru saja mengenalmu. Kita baru saja bertemu dalam sebuah diam. Aku tak pernah mengenalmu, namun kau begitu mencintaiku dengan mengirimkan berbagai makanan untuk jiwaku yang renta. Kau kirimkan pesan padaku, melalui hudhud yang selalu setia kepada Solomon, bahwa jiwa ini akan lepas setelah melewati gurun yang ganas, puncak-puncak yang beku, serta tujuh lembah yang membentang sepanjang timur dan barat.

Aku tertunduk malu. Bagaimana aku harus mencari yang sebenarnya Tiada;  Bagaimana aku dapat mencintaimu dengan tubuh buruk rupa ini; Bagaimana caraku bisa memahamimu dengan wasangkaku yang selalu berubah; Bagaimana aku mampu melepaskan semua milikku; Bagaimana kita bisa bersatu; Bagaimana aku bisa mengagumi wujud yang Tiada itu; Bagaimana kita bisa mencintai sementara aku adalah fana.

Pada sebuah padang ini aku saksikan jutaan makhluk berakal tak berdaya. Mereka telanjang di bawah tugu penebusan: pengampunan yang takkan diberikan hari-hari lain. Biarlah dalam kenistaan mereka mengemis sembari mencambuk diri dengan cemeti yang bernama masa lalu.

Aku mencintai kalian yang sanggup menahan sakit amukan pecut itu. Aku mencintai kalian yang mampu melepas belenggu kebesaran. Aku mencintai kalian yang menanti matahari dan rembulan dalam sunyi. Tak ada bangsa timur maupun barat. Kita berasal dari tanah yang sama dan mekar dalam musim semi yang sama.

Di padang berbatu ini aku mencari hati yang hilang ditenggelamkan khayali. Aku berdiri memandangmu yang tak pernah berpaling. Lihatlah aku, Kekasih. Lihat betapa tubuh ini menunggu belai jiwamu. Peluhku menetes menghapus aku dengan raga terluka.

Di sini aku terlena aroma kerinduanmu, sekalipun sebelumnya aku tak pernah merindumu. Aku lepaskan pakaian kesangsian di depanmu, agar aroma Cinta itu bisa menyerap ke dalam jasadku.

Kini tinggal sudah matahari yang sejengkal. Dan Cahaya melebur ke dalam aku. Duhai, Kekasih, renggutlah hatiku sepenuhnya.

Tinggalkan Balasan