Sekarang pandanglah wajah
Burung-burung jiwa itu
Wajah berdebu dengan senyum pecinta
Yang bertemu dengan Kekasih
Yang dirindukan
Yang didambakan
Untuk berjumpa setelah sekian lama
Berpisah layaknya Adam dan Hawa
Dan kini
Semuanya telah tersingkap
Jalan yang semula kering sekarang
Basah oleh hujan yang meluruhkan
Raga untuk kembali menjadi tanah
Burung-burung jiwa kembali terbang
Menuju Gunung Cahaya
Dengan kepakan sayap kenihilan

Mekkah-Arafah-Jedah, 2023.
TAPAK BATU
Aku datang padamu
Yang memalingkan seluruh semesta
Segala bintang-gemintang
Dan planet-planet mengitarimu
Kau
Leluhur para rasul, para nabi, para rahib
Lilin terbakar di tengah padang
Yang mengalungkan parasu
Pada kerangkeng kepalsuan berpahat batu
Peluklah jiwa rentaku
Selayaknya kau mendekap anakmu
Sebelum merelakannya
“Akankah kau memalingkan wajahmu?”
Di seberang Eufrat
Yang tak pernah kering
Tanah moyangmu
Tempat menyalanya tungku api orang-orang Kasdim
Kau tumbuh dan Ada
Lantas engkau menziarahi bangsa-bangsa
Di lembah Sungai Kehidupan itu:
Negeri gerbang dewa-dewa
Kota-kota yang agung–perantara timur dan barat
Berdialog di kuil para penyembah malam
Pun ke sebuah negeri di mana malaikat membentangkan sayapnya
“Pergilah, aku takkan ditelantarkan”
Inilah tanah
Di mana malaikat bersayap mega
Menghentakkan kakinya
Perut bumi seketika mengalirkan
Air rahmat untuk memberi makan Nabi Bakkah
Inilah titah yang takkan pernah patah
Tak ada yang bisa menuntunmu
Tidak matahari, tidak pula rembulan
Bukan juga bintang-bintang
Dan ketika mereka sadar akan itu
Mereka tahu bahwa itu tiada
Maka pasrahmu adalah keniscayaan
Kita tak lagi merasakan dahaga
Setelah Langit menggerakkan angin
Menunjukkan jalan bagi Anak Azhar
Untuk membangun sebuah kutub dunia
Dengan meteor dari firdaus di sudut timurnya
Karang kebahagiaan di sebelah kirinya
Berhadapan dengan fajar bintang paling terang
Tapak kakimu menyatu dengannya
Satu titah lainnya, lantas segenap kosmos
Seluruh isi semesta
Segala bintang-gemintang
Dan planet-planet yang berputar
Matahari juga rembulan
Tembikar-tembikar yang berpikir
Angin timur serta angin barat
Gunung-gunung yang berdiri angkuh
Dua samudera tak berbatas
Tunduk dengan khidmatnya
