Syahrur: Negasi Sinonimitas dan Dobrakan Kemapanan

Untuk menjadi mencolok Anda harus tampil dengan warna baju lain di antara mayoritas. Umpama dalam kerumunan massa yang hendak mengantar jenazah pada pemakaman, dan mayoritas mengenakan pakaian hitam, Anda boleh memilih dengan menggunakan pakaian warna kontras.

Begitulah kira-kira jika dianalogikan dengan pemikiran yang ingin mencolok dengan jalan kontradiktif. Apa yang selama ini kita idap dan diidap dalam kepala banyak orang harus dibabat habis-habisan. Menjadi semakin menarik jika objek material yang jadi perbincangan adalah Al-Qur’an. Bayangkan saja dentuman besar macam apa yang akan terjadi, dan keramaian seperti apa yang pasti meledak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itulah yang terjadi ketika Muhammad Syahrur menerbitkan magnum opus-nya dengan tajuk al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah.

Karya monumental dari Syarur itulah yang banyak menerima dua atensi sekaligus. Sebagaimana pemikir-pemikir Islam kontemporer pada masanya, ia juga mendapat penerimaan dan penolakan sekaligus. Sejalan dengan itu Peter Clak mengungkapkan bahwa karya Syahrur membuat jagat Arab bergetar.

Sebelum masuk ke beberapa prinsip dasar dalam interpretasi Syahrur, ada baiknya jika dikenali terlebih dahulu latar belakangnya, secara khusus pendidikannya.

Tinggalkan Balasan