Syahrur: Negasi Sinonimitas dan Dobrakan Kemapanan

Ia lahir di Damaskus pada 1938 dan menyelesaikan studi Teknik Sipil di Moskow. Selanjutnya mengambil program master di The National University of Ireland dengan konsen Teknik Fondasi dan Mekanika Tanah. Pada saat proses doktoral ini, ia mulai menaruh minatnya pada kajian Islam, lebih spesifik Al-Qur’an.

Hal itu diperkuat ketika ia bertemu dengan guru linguistiknya, Dr Ja’far Dikki al-Bab, yang sekaligus memberi pengantar di magnum opus miliknya. Keinginan dan minat yang dalam terhadap kajian Islam yang terus menghantui benak Syahrur, meski ia berlatar belakang teknik sipil. Karena latar belakang itu pula, sebagian orang yang anti terhadapnya justru menghantam latar belakang pendidikannya, alih-alih membabat habis karya Syahrur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, yang tidak boleh dilupa, bahwa Syahrur bukan “Bandung Bondowoso” yang mampu membangun seribu candi dalam semalam suntuk. Penelitian ilmiahnya untuk menghasilkan karya monumental itu tidak dalam waktu pendek. Ia menghabiskan sekitar dua puluh tahun lebih mengkaji Al-Qur’an.

Tesis dasar yang disusung oleh Syahrur sejatinya bermula dari tidak adanya sinonimitas dalam Al-Qur’an. Tidak ada makna yang sama untuk satuan kata yang berbeda. Secara gampang, beda kata maka beda makna, juga pengertian yang melingkupinya.

Dengan itu, negasi terhadap sinonimitas dapat memperluas dan memperkaya kosa kata dengan istilah-istilah yang berbeda. Setiap kata mempunyai pengertian dan istilah yang khusus—dan hanya—untuk kata tersebut. Ini berimplikasi besar terhadap klasifikasi di dalam al-Kitab (sebagaimana istilah yang dipakai oleh Syahrur ketika menyebut mushaf). Syahrur melakukan banyak klasifikasi di sana mulai dari yang paling dasar.

Tinggalkan Balasan