Setiap malam Jumat, ibu selalu membasuh keris itu dari air kembang pada mangkuk tembaga yang juga didapat dari kakek. Selesai dibasuh, ibu akan menusukkan keris itu ke tanah sebanyak tujuh kali, sehingga pasir halus memupurinya dari ujung ke pangkal. Lalu ibu akan memasukkannya kembali ke dalam sarung kayu dalam keadaan masih berlumur pasir.
“Dibasuh tapi lalu ditusukkan ke tanah sampai kotor kembali, baru dimasukkan ke sarungnya. Apa itu tidak terbalik, Bu? Mestinya ditusukkan lalu dibasuh dan disarungkan dalam keadaan bersih,” kataku kepada ibu suatu waktu.

Ibu hanya tersenyum dan bilang bahwa aku belum tahu maksudnya. Lalu ibu tidak menjelaskan apa-apa meski sering kudesak dengan pertanyaan. Laiknya orang wajib salat, untuk tahu itu ada batas umur minimum.
Keris ukuran sehasta orang dewasa itu memang selalu ibu rawat dengan baik. Ditaruh di samping lemari. Bergantung pada sebatang paku dalam posisi agak miring karena tali gantungannya terikat pada bagian pangkal sarung keris itu. Sedang sarung keris itu terbuat dari kayu pilihan, cokelat mengkilap menampakkan kurai halus melingkar di beberapa bagian, senada dengan gagangnya, ditatah dengan ukiran naga yang membelit batang yang ditumbuhi tiga kelopak bunga, sehingga ketika keris itu terperam dalam sarungnya, semakin tampak keanggunannya.
Menurut cerita ibu yang ia nukil dari cerita kakek, keris itu bernama Rongkang Arta. Salah satu tetuaku dulu memperoleh keris itu setelah bertapa di gua Payudan selama 40 hari 40 malam dengan hanya makan sebutir buah kers dan seteguk air putih setiap hari. Keris itu kabarnya milik salah satu raja Sumenep yang pernah menumbangkan ratusan tentara Jepang hanya dalam sekali acung. Selain itu, ia juga bisa menjadi sebab datangnya kemakmuran warga pada masa penjajahan ketika tentara Jepang sering melakukan perampasan harta benda milik warga.
Dulu, keris itu menjadi incaran banyak orang, termasuk diperebutkan oleh anak-anak sang raja hingga mereka harus berkelahi dan mengadu kesaktian. Oleh sebab keris itu jadi rebutan, akhinya raja melempar keris itu ke udara, melayang-layang dan menukik, lalu menancap dalam hingga bersarang dalam perut dinding gua yang berupa batu.
Raja menyilakan siapa saja berhak megambil keris itu dari perut batu asal bisa dengan cara bertapa. Tapi tak seorang pun yang tapanya mampu mengeluarkan keris itu dari perut batu kecuali setelah dua abad kemudian, salah satu tetuaku yang bernama Ki Muhri berhasil mengambilnya. Ia pun kemudian mewariskan keris itu secara turun-temurun dan mengimbau keturunannya agar tidak menjual keris itu. Tapi, seperti apa pun kesaktian dan keanggunannya, aku melihatnya hanya sebatang keris biasa, tak lebih dari itu. Selama tujuh belas tahun di tangan ibu, tak seorang pun yang sudi untuk sekadar menawar.
Ayah sering memperlihatkan keris itu kepada teman-temannya yang hobi pusaka. Setidaknya ayah ingin tahu jenis dan kekeramatan keris kecil tua itu. Jika ayah mempelihatkan keris itu di ruang tamu, aku sering mengintip dari balik jendela. Semua teman ayah yang sempat kuintip, hanya mengamati keris itu dengan tatapan yang biasa, menghilir dari tangkai ke ujung atau menghulu dari ujung ke tangkai, tapi kemudian mereka mengembalikan keris itu kepada ayah atau menaruhnya di atas meja sambil menggeleng. Dari raut wajah bisa kutebak, mereka tidak tertarik pada keris itu.
Mengetahui tanggapan orang-orang kepada keris itu, aku jadi teringat paman Subki yang bersikeras menolak keris itu ketika kakek memberikannya beberapa tahun silam. Paman malah menyerobot sawah yang sudah kakek berikan kepada ibu.
Saat itu paman dan kakek terlibat adu mulut soal harta warisan selama berhari-hari. Paman bersikukuh untuk mengambil sawah, sedang kakek tetap bertahan ingin memberinya keris karena keris lebih pantas dipegang seorang lelaki. Adu mulut itu tak jarang membuat tetangga kakek mengintip dari pagar mereka. Demi meredam keributan, agar tak selalu jadi gunjingan tetangga, akhirnya ibu memutuskan untuk menerima keris itu meski dirinya perempuan dan ia rela melepas sawah untuk paman. Aku baru sadar saat ini, ibu telah melakukan kebodohan besar.
